Empat Fase Kehidupan

Setahun lalu adalah titik balik kehidupan saya terutama dalam hal karir. Ya, dalam 1 tahun belakangan saya sudah merasakan bekerja di 3 perusahaan berbeda plus merasakan nggak enaknya jadi job seeker alias pengangguran.

25 Oktober 2013 adalah hari terakhir saya berstatus sebagai karyawan PT BUMA, salah satu kontraktor tambang batu bara nasional . Kalo diingat-ingat keputusan saya saat itu cukup nekat, karena berani meninggalkan zona nyaman dan memutuskan jadi pengangguran. Pekerjaan yang berhubungan dengan hobi, lingkungan kerja yang udah seperti keluarga sendiri, salary dan fasilitas yang gak bisa dibilang sedikit untuk ukuran anak baru lulus, dan status karyawan permanen. Rasanya ada dorongan kuat dalam diri saya saat itu untuk meninggalkan kenyamanan tersebut, seperti ada bisikan bahwa sesuatu yang lebih indah telah menunggu saya.

Minggu-minggu awal menganggur cukup berat rasanya, yang sebelumnya pagi saya selalu disibukkan dengan email, SAP, meeting, excel, botol sampel SOS, tiba-tiba semuanya hilang. Butuh waktu untuk mulai membiasakan bangun siang hehe.

Tidak mau berlama-lama berstatus sebagai pengangguran, langsung menaikkan status jadi job seeker (padahal sih sama aja :p). Sebetulnya sebelum saya resign, sudah ada proses rekrutmen yang saya jalani yaitu di Pupuk Kaltim alias PKT. Saat itu saya sudah tinggal menunggu jadwal interview user di Jogja, dan saya benar-benar optimis bisa lolos di perusahaan itu. Tapi kenyataan berkata lain, saya gagal di tahap interview user. Cukup sakit sih menerimanya, apalagi saat itu saya sudah resmi resign.

Tak mau berlama-lama larut dalam kegagalan PKT, mulai menyebar CV dan lamaran. Kala itu yang jadi prioritas adalah perusahaan energi atau BUMN. Alasannya adalah energi selalu dibutuhkan selama manusia ada di bumi dan salary-nya terkenal lebih unggul dibanding bidang lain. BUMN menjadi prioritas juga karena terkenal dengan jaminan karirnya, dan jujur saya sudah capek bekerja untuk pihak asing. Ceritanya sih pengen lah agar hasil keringat saya setidaknya berkontribusi pada bangsa.

Selain energi dan BUMN, ada juga prioritas kedua yaitu perusahaan otomotif. At least kalau saya nggak bisa mengejar cita-cita berkarir di bidang energi atau BUMN, saya bisa mengejar passion saya bekerja di dunia yang saya sukai.

Singkat cerita, selama hampir 6 bulan saya merasakan jatuh bangunnya menjadi job seeker. Tak terhitung berapa perusahaan yang sudah saya apply dan berapa kali interview saya lewati. Justru di saat inilah pertama kalinya saya merasakan jadi pengangguran, karena saat baru lulus kuliah di 2012 tak lebih dari 4 minggu saya meninggalkan Jogja untuk bekerja di BUMA.

Berbagai jenis psikotes saya sudah hafal, bahkan bermacam pola pertanyaan dalam interview sudah ada di luar kepala beserta jawaban-jawaban andalan saya. Dari sini saya belajar bagaimana mengendalikan jalannya interview baik HRD, user, maupun direksi. Bahkan demi “menambah” jam terbang interview, tak jarang saya apply perusahaan yang sebetulnya kurang saya minati hanya untuk berlatih interview. Ada pula beberapa perusahaan yang awalnya hanya iseng-iseng saya apply, malah berlanjut ke tahap yang serius.

Di bulan april saya dinyatakan diterima bekerja di perusahaan otomotif, Toyota Astra Motor (TAM) dan mulai bekerja akhir Mei. Mulailah saya menjalani kehidupan baru di Jakarta. Hidup sendiri di ibukota. Ini bukan hal asing bagi saya sebetulnya, bahkan saya pernah hidup 1,5 tahun di tempat terpencil di Kalimantan. Bekerja di TAM bagi saya ibarat menjalankan hobi yang digaji, karena saya memang selalu menyukai segala yang berhubungan dengan mobil.

Tapi ternyata Allah berkata lain. Belum genap 2 bulan saya bekerja di TAM, saya dinyatakan lolos rekrutmen PT Pertamina (Persero) melalui program BPS.

Pertama kali Apply akhir Februari dan tes pertama di akhir Maret. Saya mendapat tempat tes di Jogja dari tahap awal hingga akhir. Dari awal apply sebetulnya nggak ada target, sekedar penasaran kayak apa sih tes di Pertamina karena sejak lulus kuliah belum pernah ikut rekutmen Pertamina. Padahal buat teman-teman saya, Pertamina adalah menu wajib saat jadi job seeker. Saya juga sadar diri lah, sehebat apa sih saya sampai bisa ngalahin puluhan ribu orang yang pengen kerja di Pertamina?!

Hingga interview user pun sama sekali tidak punya target, yang penting dijalani aja. Apalagi kalo ngebayangin tahap setelah interview user yaitu  medical check up Pertamina yang terkenal sadis dan ketat, padahal saya punya sejarah gagal MCU di Telkomsel. Barulah ketika dinyatakan lolos MCU dan berlanjut ke tahap interview top management, bener-bener berharap bisa lolos karena itu adalah tahap akhir.

Beruntungnya saya, interview user dan top management di Pertamina adalah puncak akumulasi pengalaman sebagai job seeker, karena ketika dapat kesempatan interview di Pertamina jam terbang interview saya sudah cukup tinggi. Jadi interview user dan top management bisa saya lewati dengan lancar jaya. Tentunya berkat doa dan restu orang tua juga dong.

By the way, interview user dan top management saya jalani saat sudah kerja di TAM Jakarta. Sedangkan interview bertempat di Jogja. Dengan sangat terpaksa saya mencari seribu alasan pada atasan biar bisa kabur ke Jogja demi Pertamina. Kalau ada bos saya di TAM yang baca blog saya ini, please maafin saya ya bos😀.

Jadilah, tanggal 25 Juli adalah hari terakhir saya kerja di TAM (lagi-lagi resign di tanggal 25). Beruntungnya saya, pengumuman Pertamina 3 minggu sebelum registrasi, sehingga masih sempat untuk mengurus resign baik-baik di TAM. Jujur, agak berat cabut dari TAM kalo inget orang-orangnya yang friendly dan lingkungannya yang religius. Terutama kalau inget salary yang bisa dibilang WOW untuk sekelas perusahaan otomotif, bahkan salary saya waktu di Kalimantan kalah telak deh.

11 Agustus 2014, hari pertama saya berkarir di Pertamina melalui program BPS Marketing & Trading. Ini memang belum akhir, karena saya harus melewati serangkaian pendidikan 6 bulan terdiri dari  in class dan OJT demi mendapatkan status karyawan permanen Pertamina.

Saya belajar banyak hal saat menganggur. Belajar betapa buruknya manajemen keuangan saya ketika masih mendapat gaji setiap bulan, belajar bagaimana hidup prihatin, belajar bagaimana para manager dan direktur bersikap hingga bisa mencapai jabatannya, serta belajar bagaimana memetakan karir ke depan.

Saya belajar juga bagaimana bisa bangkit dari setiap kegagalan yang saya alami. Selama menganggur, saya mengalami kegagalan di beberapa perusahaan yang benar-benar saya inginkan. Ada yang gagal di tahap FGD atau akademik (PLN, Schlumberger, dan Danone), interview user (PKT, Elnusa, dan RUIS), medical check up (Telkomsel), ada juga yang harus interview user ulang (TAM). Selain itu ada beberapa proses yang tidak saya teruskan prosesnya (HPM) dan saya tolak walaupun sudah diterima (Andalan Multi Kencana). Masih ada sih perusahaan-perusahaan lain yang saya sendiri sudah lupa pernah apply di sana😀.

Bener-bener deh, 1 tahun yang begitu berharga dan berhasil menempa mental serta pola pikir saya. 4 fase kehidupan saya alami dalam 1 tahun ini, dari status karyawan permanen di perusahaan tambang, pengangguran, bekerja lagi di perusahaan otomotif, dan pindah kerja lagi di perusahaan energi BUMN. Sungguh jadi pengalaman yang berwarna deh.

~ by si_kumbang on 25 October 2014.

One Response to “Empat Fase Kehidupan”

  1. mas mw nanya tentang wawancara tes d pupuk kaltim..untuk wawancara user ditanyain tentang apa y, bisa lebih spesifik spt dkasi case studi apa, trus dtanyain ttg pelajaran pas kuliah gtu tentang apa,dll. makasihh🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: