Dibuang Sayang Edisi Merapi: “Dan Akupun Pulang” Part 1

Ini tulisan udah cukup basi sih, kutulis di saat Gunung Merapi baru aja memuntahkan letusan terbesarnya di tahun 2010 lalu. Bukan fiksi maupun nggombal, asli dari apa yang aku alami di TKP. Ya daripada udah banyak-banyak kutulis terus mendarat di recycle bin begitu aja mending “dibuang” di sini aja deh, sekalian untuk mengingatkan kebesaran Sang Maha Berkehendak melalui Gunung Merapi ini. Langsung aja deh ini tulisannya.

“Dan Akupun Pulang” Part 1

Jam  setengah 10 malam itu aku baru aja pulang ke rumah. Kondisi di luar masih rintik-rintik. Seusai memenuhi berbagai kebutuhan pribadi, jam 10 menuju kamar buat nginstal-nginstal laptop sambil ditemenin secangkir Nescafe Kopi Tubruk. Ya, baru aja sorenya aku beli laptop baru buat gantiin laptop lama yang udah mulai berumur dan rentan kena stroke.

Sejak itu telingaku mendengar sesuatu yang menurut hati kecilku cukup meresahkan. Terdengar samar-samar bunyi gemuruh dari kejauhan. Tapi aku ragu itu bunyi apa, soalnya memang hujan yang turun semenjak siang memang terkadang diiringi sambaran petir. Dan lingkungan di sekitar rumahkupun tampak tenang-tenang aja, begitu pula kabar di TV adem ayem aja. Ya udah kucuekin aja, anggep aja kupingku yang agak terganggu. Soalnya dari semalam sebelumnya aku juga denger gemuruh yang mirip dan memang tak terjadi apa-apa.

Tapi sekitar jam 11 perlahan-lahan suara gemuruh semakin nyata terdengar. Tetep positive thinking aja, sambil tetap bersantai ngurusin laptop. Walau tak dipungkiri saat itu mulai muncul rasa was-was. Sampai akhirnya jam setengah 12 lebih sekian menit gemuruh sudah benar-benar terdengar. Dan yang lebih bikin deg-degan, gemuruh itu diiringi getaran-getaran di sekitar. Semacam gempa yang sangat kecil tapi sangat terasa dan lama.

Dengan detak jantung yang akselerasinya meningkat, bangkit dari tempat tidur. Keluar kamar menuju depan rumah. Putar anak kunci, genggam dan tarik gagang pintu. Begitu ragaku berada di luar rumah, mataku langsung terpaku pada langit arah utara dimana sang Merapi berada.

Jelas terlihat langit di arah utara menjadi terang, dan berwarna agak kemerahan seolah-olah ada yang menyorotkan sinar dari arah utara. Si gemuruh yang sudah lama kudengarpun sangat jelas berasal dari arah yang sama dengan arah sinar itu.

Rasa penasaranpun muncul. Segera masuk kamar buat cari berita di tv. Ternyata 2 tv berita yang selama ini begitu gencar memberitakan perkembangan Gunung Merapi, sudah dengan hebohnya melaporkan kondisi  terkini Si Merapi, lengkap dengan live report dari sekitar Jogja. Diberitakan bahwa sedang terjadi letusan dan terjadi guguran lahar dingin. Saat itu pula temenku si Jiwo sms, “tangi fik, merapi bunyi..”.

Dengan perasaan yang gak karu-karuan,antara tegang dan deg-degan kuputuskan buat masuk ke kamar aja buat memantau kondisi dari tv aja. Pintu rumah kututup lagi, tapi tanpa kukunci dengan pertimbangan bisa segera keluar rumah kalo terjadi apa-apa.

Dari tv itu pula kudapat berita bahwa malam itu juga radius steril ditingkatkan dari yang terakhir 15 km dari puncak Merapi, menjadi 20 km. Pengungsian juga dipindahkan ke stadion Maguwoharjo.

Tepat jam 1 suara gemuruh sudah berkurang, atau bahkan hilang aku juga lupa. Yang jelas udah mereda Yang kurasakan dari rumahku kini berganti jadi hujan. Namun hujan kali ini cukup unik, karena yang jatuh dari langit bukan air atau abu kayak sebelumnya. Tapi kerikil campur pasir…

Awalnya juga kukira suara rintik-rintik di atap rumah adalah suara gerimis, tapi kok kerasa lain bunyinya. Tanganku kutengadahkan ke luar rumah, gak basah sama sekali. Eh yang ada malah sesuatu mirip kerikil yang bercampur pasir.

Tapi justru seiring turunnya hujan kerikil itu, perasaanku jadi benar-benar tenang dan lega. Karena udah gak kedengeran lagi gemuruh yang sebelumnya sangat jelas terdengar. Udahlah aku masuk rumah aja, sambil terus update info dari tv dan internet.

Walaupun sejak pulang jam 10 mataku sebenernya udah berat banget, tapi dengan adanya kejadian ini malah bikin aku bener-bener gak ngantuk lagi. Namun aku tetep coba nenangin diri dengan cara tidur. Akhirnya jam 3 mataku berhasil tertutup juga.

Yang sangat kusayangkan adalah pemberitaan di tv yang hanya membuat begitu panik masyarakat. Informasi sepotong-sepotong yang diterima oleh reporter dari TKP, begitu saja langsung disampaikan ke seluruh pemirsa di tv dan dibuat kesimpulan versi reporter di TKP atau yang berada di studio. Tata bahasa yang begitu kacau dan terlihat tak siap dengan kondisi yang berubah tiba-tiba juga turut mempengaruhi psikologis pemirsa, seolah-seolah tengah terjadi sesuatu yang begitu dahsyatnya hingga sang reporter  kesulitan berkata-kata, padahal ini murni hanya masalah mental si reporter.

Yang sangat mengesalkan dan menyesatkan malam itu adalah ketika salah satu tv yang sedang live mengatakan tengah terjadi hujan batu! Hey, yang bener aja hujan batu?! Orang mana yang gak panik denger ada berita hujan batu??? Padahal kenyataan di lapangan yang juga kualami sendiri, cuma hujan kerikil kecil-kecil bercampur pasir! Sungguh hiperbolis!!! Aku sendiri bukan orang yang paham tentang komunikasi di media massa. Tapi sebagai pemirsa yang juga ada di TKP, cukup bisa merasakan bahwa berita-berita di tv terkadang terlalu dilebih-lebihkan dan kebanyakan hanya opini semata. Bukan fakta yang didapat dari bukti-bukti di lapangan. Setidaknya yang kuharapkan dari live report di tv adalah informasi yang apa adanya saja dari lapangan, tak perlu sampai dibuatkan kesimpulan versi mereka sendiri atau himbauan-himbauan yang berlebihan!

Bahkan efek yang paling terasa dari “kuatnya” media dalam mempengaruhi adalah, keesokan hari pasca letusan merapi 5 November banyak dari teman-temanku yang ditelepon orang tuanya di kota asal dan disuruh buru-buru pulang ke kampung halaman. Itu gak Cuma 1 atau 2 orang teman, tapi banyak!! Ya wajar lah, orang tua mana yang gak khawatir ketika tahu anaknya sedang berada di kota yang sedang terancam oleh letusan dahsyat Merapi??? Dari mana lagi para orang tua itu tau betapa bahayanya Jogja kalo gak dari televisi?

Padahal kami yang ada di Jogja yang lebih tahu persis kondisi tempat kami berada. Dan yang kurasakan dari Jogja sehari pasca letusan hebat 6 November dini hari adalah, tak sebegitu mencekam. Segala aktifitas juga berjalan seperti biasanya. Pagi hari, jalanan begitu ramai oleh orang-orang yang hendak bekerja atau anak-anak sekolah yang berangkat menuju sekolahnya walau ternyata hari itu sekolah diliburkan. Para mahasiswa dan mahasiswi juga banyak yang terburu-buru berangkat ke kampus, entah mau kuliah atau ujian karena masih jadwalnya UTS. Hanya 1 hal yang sangat berbeda dari hari biasanya, yaitu jogja agak lebih berdebu!

to be continued…

~ by si_kumbang on 19 July 2011.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: