Nafsu atau Kebutuhan?

Kadang aku nggak bisa bedain apa bedanya nafsu dan kebutuhan. Mana yang sekedar mengikuti kemauan dan kepuasan atau memang benar-benar kubutuhkan.

nek mung nuruti seneng karo pengen, ra enek enteke..

Begitu status FB seorang teman (yang akhirnya ku-copas jadi statusku juga). Bener banget emang kata-kata itu. Kadang aku sendiri rela mengeluarkan uang yang belakangan baru disadari jumlahnya kurang masuk akal hanya untuk memenuhi keinginan-keinginan itu. Pikiranku selalu terbayang-bayang siang malam kalau belum bisa meraih keinginan itu. Dan ketika keinginan itu bisa kudapatkan, isi kepalaku masih dipusingkan dengan keinginan-keinginan lanjutan. Bahkan waktuku nyaris terbuang sia-sia untuk memikirkan hal-hal itu. Hingga rela melakukan berbagai cara untuk bisa meraihnya, termasuk rela menghabiskan uang bulanan.😀

Untuk membedakan yang mana nafsu, yang mana kebutuhan sebetulnya gampang. Nafsu adalah sesuatu yang kita inginkan namun kita masih bisa hidup tanpa hal tersebut. Sedangkan kebutuhan adalah sesuatu yang dapat berdampak negatif pada hidup kita jika hal itu tak kita dapatkan. Terkadang nafsu itu hanya untuk memenuhi gengsi yang tinggi.

Contohnya, sebagai mahasiswa pasti butuh komputer. Kalo sekedar ngikutin nafsu, pasti maunya komputer atau laptop branded dengan spek gila-gilaan agar terlihat up to date terhadap teknologi atau dibilang keren. Masalahnya, apa memang kita butuh spek setinggi itu? Kalo itu komputer cuma sering dipake buat MS Office atau internet browser, pake netbook atau desktop seharga Rp 3 jutaan udah cukup banget kok. Tentu beda kalau mengikuti kebutuhan, misalnya butuh komputer untuk editing grafis atau video, memang mengharuskan spek komputer yang tinggi dengan harga yang pastinya lebih mahal.

Namun terkadang kita rela mengorbankan uang yang cukup besar untuk hobi. Bahkan ada anggapan, hobi itu nggak ada harganya. Kalo aku sih percaya anggapan itu, namun mesti ditambah kalimat “selama masih logis”.

Aku emang hobi banget modif motor. Dan di setiap sentuhan modif yang kulakukan harus terlihat eksklusif dan tidak pasaran. Namun nggak secara mentah-mentah kuborong berbagai variasi motor buat dipasang di motorku.

Aku rela mengeluarkan uang seberapapun jika memang itu masih masuk akal. Jika sekiranya harga yang kubayar tak sesuai dengan yang kudapat, lebih baik kupendam keinginan itu. Justru keinginan untuk terlihat eksklusif itu yang membuat otakku berfikir kreatif. Pernah aku ngecat full motorku pake semprotan obat nyamuk dengan modal nggak sampe 100 ribu, dengan hasil yang cukup memuaskan. Ada juga beberapa part di motor yang kubuat dengan tangan kreatifku. Hingga rela belajar bikin fiberglass dari nol untuk bikin body motor. Tentunya hal-hal yang kulakukan dengan tanganku sendiri menciptakan sentuhan personal yang tak kudapat kalo dikerjakan bengkel, dan dengan biaya yang jauh lebih murah.

Hingga sekarang mulai coba modif mobil, aku masih terobsesi dengan segala sesuatu yang berbau hand made. Jika sesuatu yang kurasa cocok dipasang di mobilku namun harganya kurang manusiawi, lebih baik kuurungkan memiliki part itu. Atau sedikit putar otak untuk mencari alternatif yang lebih murah, bahkan coba membuat/melakukannya sendiri.

So, bedakan antara kebutuhan dan nafsu sob!

~ by si_kumbang on 8 June 2011.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: