Inikah Antiklimaks?

Sekitar 2 minggu yang lalu, banyak temen-temen yang lagi seneng-senengnya ngerayain wisuda. Jelas lah seneng, ketika mereka berhasil mewujudkan salah satu mimpi orang tua mereka menyekolahkan anaknya hingga menjadi sarjana. Meski saat ini gelar sarjana sudah terdengar biasa, tapi aku tahu persis kok perasaan orang tua yang begitu bahagia dan bangganya ketika mengetahui anaknya berhasil memperpanjang namanya dengan titel sarjana. Setidaknya ketika anaknya baru lahir, kebanyakan orang tua mulai “bermimpi” untuk membekali buah hatinya dengan pendidikan hingga perguruan tinggi, bahkan mereka bertekad untuk mengorbankan segalanya demi pendidikan anaknya.

Oke, aku memang belum berhasil mewujudkan mimpi orang tuaku sendiri. Aku memang belum wisuda!😀.

Wisuda berarti juga berakhirnya masa studi teman-teman di Jogja. Semua orang juga tahu, hampir semua mahasiswa UGM itu perantauan yang bela-belain datang jauh ke Jogja untuk menimba ilmu. Ada awal, pasti ada juga akhir. Ada awal mereka datang ke Jogja, pasti ada saatnya mereka meninggalkan Jogja.

Satu persatu teman-temankupun akhirnya harus meninggalkan kota ini. Ada yang kembali ke kampung halaman, menikah, namun sebagian besar menuruti tuntutan pekerjaan yang mengharuskan mereka hijrah ke kota lain. Bila kuhitung dengan jari teman-teman yang masih berada di Jogja, baru tersadar tinggal segelintir orang saja. Jika perjalanan kuliah adalah sebuah FTV, saat-saat seperti ini mungkin ada pada bagian antiklimaks.

Sore tadi (6/6) seorang teman (sebut saja namanya Fredy) datang berkunjung ke rumahku. Agak jarang memang dia main ke rumahku. Ternyata kali ini dia dateng untuk berpamitan, katanya dua hari lagi dia bakal berangkat ke Pekanbaru buat menunaikan kewajiban training di tempatnya bekerja. Sudah cukup lama kudenger dia diterima di sebuah perusahaan, namun dia masih ragu-ragu menerimanya karena belum yakin dengan lokasi penempatan kerja dan masa kontraknya. Tapi akhirnya dia memutuskan ambil pekerjaan itu. Selamat sobat, kamu telah berani mengambil keputusan besar dalam hidupmu. Semoga saja kamu masih bisa sering-sering main ke rumahku lagi.

Aku sebagai mahasiswa yang belum lulus-lulus (damn!!), ternyata masih bisa berbangga juga dengan status ini. Setidaknya aku lebih beruntung dibanding teman-teman yang sudah meninggalkan Tanah Sultan ini, karena aku masih bisa merasakan nikmat dan indahnya tinggal di kota ini. Aku tahu, setiap orang pasti berat ketika harus meninggalkan Jogja. Kalaupun mereka harus meninggalkan kota ini, itupun karena terpaksa. Begitupun dengan teman-teman yang tak lagi sekota denganku. Bahkan beberapa dari mereka berniat untuk kembali di Jogja. Mungkin kalo setiap perantau di Jogja gak mau ninggalin ini kota, lama-lama bakal penuh sesak dan macet nih!😀

Jogja memang kota yang istimewa. Senang rasanya (masih) bisa tinggal di kota ini. Bukan pembelaan diri, tapi sekedar menghibur diri kok.🙂

~ by si_kumbang on 7 June 2011.

One Response to “Inikah Antiklimaks?”

  1. tetep semangat ya bro!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: