Aku Juga Pernah KKN

Akhir-akhir ini lagi sering denger orang ngomongin soal KKN. Ya, bentar lagi bakal libur antar semester sekitar 2 bulan yang pada saat bersamaan diadain KKN. Setiap kali denger kata “KKN” selalu aja teringat sejuta kenangan bertahan hidup di negeri orang bersama orang-orang yang baru pada KKN-PPM UGM 2009. Senang, susah, bahagia, tangis, tawa, canda, kesal, pusing, sedih, kaget, panik, semua ada di sini. Hingga saat ini, ketika hampir 2 tahun berlalu kujalani KKN, semua masih terrangkum jelas dalam ingatanku.

Kemarin sempat keinget kalo aku pernah nulis kenangan KKN-ku di notes FB yang kutulis pada 31 Agustus 2009, tepat 2 hari setelah berakhirnya cerita indah itu. Notes itu sebagai “balasan” karena beberapa teman yang lain juga pernah menulis notes serupa, tentu dengan versinya masing-masing.

Notes itu kutulis bener-bener dari dalam lubuk hati. Malah waktu kemarin kubaca ulang, sampe cengar-cengir sendiri dan hampir nggak nyangka aku pernah mengalami kisah indah itu. Beberapa temanku, baik yang se-KKN bareng atau yang cuma numpang baca berkomen takjub, malah ada yang nyaranin aku pindah kuliah di filsafat aja! Hahaha. Udah ah nggak usah kebanyakan cincong, nih ku-copas langsung dari FB-ku:

SEKARANG GILIRANKU BICARA

Badai, Icha, Fattah udah melampiaskan kesedihannya karena KKN berakhir.

Sekarang giliran aku yang ingin berbagi kesedihan ini. Tepat sehari sejak kepergian kita dari sebuah dusun penuh kenangan dan keikhlasan bernama Kalipakem. Di dusun yang kental adat ketimurannya itu kita belajar sesuatu yang takkan kita temukan di dunia perkuliahan. Keikhlasan, toleransi, tepo seliro, kepedulian sesama, saling berbagi, persahabatan, kesabaran, kedewasaan menghadapi masalah, hingga yang berbau teknis seperti manajemen waktu dan uang. Dan masih segudang hal lain yang kita pelajari disana.

Mereka itu. Para warga itu, bukanlah dosen, bukan dekan atau asisten lab. Bahkan tingkat pendidikannya (maaf) rata-rata jauh dibawah kita. Tapi mereka mampu mengajari kita pelajaran bertahan hidup di dunia yang sebenarnya. Meski dunia ini keras dan begitu cepat namun tak semuanya dapat dinilai dengan rupiah. Tak semuanya dapat dibeli. Ada perhatian luar biasa yang kurasakan dari hati mereka yang tentunya itu tak ternilai dengan apapun.

Sejak bulan februari aku dan beberapa teman telah banting tulang untuk memperjuangkan berdirinya KKN kita. Tapi taukah apa yang ada di pikiranku saat itu??? Fikry kala itu berkata dalm hatinya, KKN 2 bulan di daerah yang asing bersama-sama orang-orang yang baru, lingkungan yang baru, dengan pekerjaan baru, adalah sebuah hal yang sangat berat dan pasti menyiksaku!!! Karena selama ini aku tipikal orang yang lebih nyaman saat di kesendirian dan susah beradaptasi dengan sesuatu yang baru. Dan aku sangat benci saat Bulan Juli makin dekat!!! Untuk menghibur diri, aku berpikir bahwa KKN itu gak penting, yang penting 2 bulan itu cepet-cepet selesai…!

Tapi semua itu benar-benar berubah ketika 1 minggu telah terlewati bersama kalian. Rasa nyamanlah yang kurasakan. Tak ada lagi ketakutan dan pikiran aneh lainnya yang menghantuiku. Hanya ada keceriaan dan kehangatan saat ada di antara kalian.

Ingatkah saat aku jatuh sakit ketika itu? Alasanku tetap bertahan di pondokan dan tak pulang ke jogja adalah karena aku tau di pondokan ada kalian yang dengan tulus merawatku, tak seperti di jogja aku hidup seorang diri kala itu. Aku benar-benar terharu teman dengan perhatian kalian! Saat aku kembali dari dokter dan langsung terkapar di kasur dengan perut kosong. Tiba-tiba aku dibangunkan oleh para malaikat wanita untuk segera makan. Sepiring nasi dan sup telah ada di hadapanku. Padahal menu yang ada saat itu adalah opor ayam yang pedas. Demi aku yang tak boleh makan pedas kalian dengan panik langsung menuju rumah mbak menik untuk minta dibuatkan sup. Oh teman aku benar-benar terharu saat suke menceritakan hal itu!!!

Dan saat aku masih terlelap di kasur, tiba-tiba icha membangunkanku hanya untuk berpamitan mengajar TPA dan badai rela tetap di rumah menjagaku. Di dalam lelapku bahkan kalian senantiasa menjagaku, suke dan icha yang rela kupakai selimutnya, dan kasur empuk yang terpaksa kurampas, serta rajinnya kalian menyiapkan makan dan obat 5 biji untukku. Fattah wibi dan badai yang juga senantiasa ada disisiku. Saat aku terbangun di malam hari dan wiby langsung bertanya-tanya butuh apa fik??? Fattah yang datang dari jogja dan membawakan madu…

Oh sahabat, saat itu aku benar-benar merasa beruntung bisa mengenal kalian. Tak dapat kubayangkan apa jadinya jika saat itu kupaksakan untuk pulang ke jogja padahal aku seorang diri disana. Saat menunggu dokter di rumah sakit, dengan tubuh yang super lemas aku sempat menitikkan air mata. Entah kenapa, mungkin saking lemasnya tubuhku, tapi ada hal yang kukuatirkan. Mbak di lab sempat bertanya apa pernah aku kena tipus dan membuatku berfikir aku kena penyakit tipus. Yang kukuatirkan adalah siapa yang akan merawatku padahal aku seorang perantau di jogja sedangkan kakakku sedang ada di kampung halaman. Sedang teman-temanku di jogja juga pulang semua. Pada siapa aku dapat bernaung? Apakah pilihan dirawat inap di RS lebih baik? kurasa tidak! Tak mungkin aku harus pulang ke purwokerto atau keluargaku yang kesini. Saat itu pula air mata menetes dari mataku. Ketika itu aku belum sadar memiliki sebuah keluarga baru yang tak kalah hangatnya dengan keluargaku di rumah yang sanggup dengan tulus ikhlas merawatku. Jika saja saat itu aku sadar pasti takkan ada air mata menetes dari mataku. Terimakasih keluarga baruku…

Oke! Itu semua sudah berakhir. Sahabatku, keluargaku, marilah kita tatap detik yang akan datang.
Semua cerita dan kisah biarlah menjadi sebuah kisah klasik layaknya lagu sheila on 7 yang sering kita lantunkan di pondokan. Biarlah semua keindahan 51 hari ke belakang kita simpan sebagai harta karun yang tak ternilai. Cukup kita kenang menjadi cerita dan goresan gambar. Sisanya biarlah waktu yang bicara.

Wibi, Fattah, Badai, Suke, Raras, Desy, Icha, Mita… Kalian tetap menjadi keluarga yang kusayangi. Terima kasih untuk 51 hari yang luar biasa, kisah kita takkan bisa terganti. Terimakasih Tuhan telah mempertemukanku dengan orang-orang hebat yang bisa saling mengerti. Terimakasih LPPM telah merestui kelompok kami untuk menjalankan program KKN. Terimakasih waktu yang telah bergulir sesuai dengan takdir. Janganlah pernah persaudaraan kita terpisah.

Saat perpisahan jumat malam itu sempat terjadi hujan air mata baik dari pihak kita maupun para warga yang tak rela dengan kepergian kita. Aku ingin larut dengan kesedihan tapi aku masih tetap tegar. Hingga Sabtu, Minggu aku masih belum merasa sedih yang mendalam berpisah dengan kalian. Tapi malam ini saat kutulis notes ini dan kuingat saat aku sakit itu, baru bisa kurasakan betapa berharganya kalian dan air mata inipun nyaris menetes meski gagal.

Thanks bro’s sist’s…jangan sedih-sedih mulu. Balik lagi ke kehidupan kuliah yang membosankan, jogja yang membosankan, hari-hari yang super biasa. Gapailah citamu kawan! Ingat umur, udah saatnya kita berfikir jauh ke depan. Cobalah kurangi rasa cinta sama UGM, segera tinggalkan kampus ini dengan segudang ilmu yang kau punya syukur-syukur dengan IP cumlaude (aku kapan bisa ya???)! Esok hari, minggu depan, bulan depan, atau tahun-tahun depan saat kita mungkin akan susah sering-sering bertemu bersembilan, ingatlah hari ini! ingatlah kalian memiliki keluarga yang luar biasa!

~ by si_kumbang on 31 May 2011.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: