Satu Perjalanan untuk Selamanya

Sabtu itu adalah hari ketiga KKN (Kuliah Kerja Nyata). Seperti kesepakatan subunit kami sebelumnya, minggu pertama dari total 8 minggu masa KKN akan dimanfaatkan untuk lebih mengenal anggota satu sama lain serta lingkungan sekitar. Salah satu cara kami untuk lebih mengenal lebih dekat satu sama lain adalah dengan sering-sering jalan-jalan. Ini yang kusuka, jalan-jalan!

Desa Seloharjo, Kecamatan Pundong, Kabupaten Bantul, DIY, adalah tempat kami KKN. Dengan sembilan orang anggota subunit, kami menempati pondokan Dusun Kalipakem. Sebuah berjarak sekitar 3 km dari Pantai Parangtritis. Dari yang kami dengar, ada sebuah tempat dengan pemandangan indah di bukit tak jauh dari pondokan kami. Konon dari tempat itu, akan terlihat jelas laut selatan Jawa dengan hamparan Pantai Parangtritis. Tak hanya pantai yang dapat kami lihat, juga gunung berapi teraktif di dunia, Gunung Merapi, dapat kami lihat dengan lebih indah.

Jajaran bukit itu berada di utara Pantai Parangteritis. Jika kita sedang menuju Pantai Parangteritis dari Yogya, kita akan melihat jajaran bukit tinggi berwarna hijau di kiri jalan ketika sudah mendekati Parangteritis. Ya, bukit itu yang kami putuskan untuk dijadikan sasaran jalan-jalan kali ini.

9 orang yang terdiri dari 5 cewek dan 4 cowok, memang menciptakan kombinasi ganjil. Dengan terpaksa satu orang cewek harus mengendarai motor seorang diri. Aku berboncengan dengan Mita mengendarai Vario-ku, Badai bareng Desy naik Jupiter MX milik Badai, Wibi naik Supra X miliknya berboncengan dengan Icha, Fattah berboncengan dengan Raras pakai Supra Fit kepunyaan Mita. Sedangkan satu cewek tersisa yaitu Suke seorang diri naik Shogun punya Raras.

Biarpun jarak yang ditempuh hanya hitungan beberapa kilometer, bahkan bisa dibilang cuma main ke desa sebelah, tapi kelengkapan safety minimal tetap diperhatikan. Helm dan jaket wajib dipakai, juga untuk menghindari sengatan matahari langsung. Dari dusun kami cukup berjalan ke timur sedikit mengikuti arus Kali Opak, lalu berbelok ke selatan di sebuah gang dengan jalan aspal. Baru saja masuk ke jalan ini, sudah disuguhi sebuah tanjakan terjal dan menikung. Satu persatu motor kami menyusuri jalanan tersebut. Aku memilih berada di urutan terbelakang, untuk mengawasi Suke yang berkendara seorang diri. Baru menanjak beberapa puluh meter, kami disuguhi sebuah tempat di tepi jalan dengan pemandangan kali opak yang terlihat jelas dari ketinggian. Serta Gunung Merapi yang tampak gagah dari tempat tersebut. Makin penasaran rasanya ingin mendapatkan pemandangan yang jauh lebih indah lagi.

dari tempat ini terlihat siluet Gunung Merapi

Akhirnya dari tempat ini, kami kembali menyusuri jalanan aspal menanjak. Mau tak mau semua motor mengandalkan gigi 1 agar tak kehilanngan torsi, kecuali motorku yang matik. Di tempat ini jalannya masih mulus, kami hanya perlu menjaga RPM untuk menaklukkannya. Setelah berhasil melewati tanjakan terjal dan berliku sejauh ratusan meter, kami “dipaksa” berhenti oleh pemandangan yang luar biasa di hadapan kami. Jalanan yang begitu sepi tiba-tiba menjadi gaduh dengan teriakan-teriakan kekaguman kami terhadap apa yang sedang kami saksikan. Terlihat dengan jelas di kejauhan sana, lautan luas dengan bibir pasir yang indah, serta hamparan sawah dan kawasan hijau yang begitu sejuk dipandang. Tak cukup itu, kami masih dibuai dengan angin yang berhembus dari laut mengenai sekujur tubuh kami benar-benar mendamaikan hati. Tak mau rugi, kesempatan berfoto dengan berbagai gaya  yang menonjolkan pemandangan di selatan kami, tak kami lewatkan.

Petualangan kami lanjutkan. Kali ini jalanan makin berliku, menyempit oleh alang-alang, dan mulai ditemui jalanan yang hancur di sana-sini. Semangat mendapatkan pemandangan yang lebih indah lagi untuk mencuci mata dan berfoto-foto membuat tantangan tersebut nyaris tak terasa. Setelah melewati jarak sekitar 1 kM dari titik awal tanjakan, kembali kami menemukan sebuah tempat dengan pemandangan yang luar biasa, yang letaknya lebih tinggi lagi. Masih terlihat laut selatan Jawa dan pantai-pantai Parangtritis, Parangkusumo, dan Pantai Depok, namun di tempat ini view-nya lebih luas karena keadaan sekitarnya lebih lapang. Setelah mengeksplore bakat terpendam jadi foto model amatiran, kami lanjutkan petualangan ini.

Trek yang ada semakin berat. Mulai dijumpai jalanan tanah agak becek, serta pepohonan yang makin rindang layaknya hutan hujan tropis. Dengan semangat kekeluargaan yang mulai tumbuh di antara kami bersembilan, kami makin merapatkan barisan. Saling mengawasi dan membantu satu sama lain dalam melewati setiap rintangan yang ada.

Hingga di suatu tanjakan sangat terjal dengan kondisi aspal yang sebagian mengelupas dan menciptakan lubang besar, Suke mengalami kesulitan mengendarai motornya. Bahkan dia nyaris jatuh. Kamipun bahu-membahu membantunya melewati tanjakan itu, walau akhirnya salah satu dari cowok yang harus menaikkan motor yang dipakai Suke ke atas tanjakan itu. Serta mengajarkan trik singkat berkendara ala cowok.

Tantangan semakin ekstrim, kali ini yang dilewati jalanan tanah. Beruntungnya kami, beberapa waktu sebelumnya tak turun hujan sehingga jalan tanah itu tak berubah menjadi bubur lumpur. Tampak jelas, kontur tanah yang dilewati adalah lumpur kering yang membentuk jejak ban kendaraan yang lewat. Untuk melewatinyapun tak bisa sembarangan, salah-salah saat melewati alur jejak ban tersebut malah  guling karena jejak ban itu dalamnya bisa lebih dari 15 cm dan terasa cukup licin di ban motor. Untuk melewatinya, kami harus berjalan pelan-pelan dan menjaga keseimbangan. Dari jejak ban yang ada, kelihatannya jalan itu bekas dilewati truk ataupun mobil jip karena ukurannya cukup besar.

Beberapa kali kami harus melewati jalur lumpur kering seperti itu. Dan fisik kami terlihat mulai kelelahan. Namun rasa lelah itu selalu saja sirna seketika kami disuguhi pemandangan-pemandangan indah dengan hembusan angin sepoi-sepoi menempel di kulit dan menghapus keringat kami. Masih sempat beberapa kali kami berhenti untuk sekedar menikmati pemandangan yang ada, dan tentunya untuk foto-foto!

terlihat laut selatan beserta gugusan pasir pantai

Setelah berjalan sejauh 6,4 km, tanpa terasa kami sudah ada di jalan dekat Pantai Parangtritis. Karena terasa nanggung sudah di dekat pantai, sekalian saja kami menuju pantai yang sudah terkenal seantero nusantara itu. Udara sore yang tak terlalu panas menemani kami menikmati suara deburan ombak yang sesekali pecahannya terdengar begitu menggelegar.

Kami begitu menikmati suasana sore itu. Tak terkecuali aku, dengan keluarga baruku (meski ada juga yang muka-muka lama) yang akan tinggal seatap 24 jam sehari selama 2 bulan. Meski baru hari ketiga kami bersama, aku rasakan kekeluargaaan itu begitu terasa dalam perjalanan ini.

Sebuah perjalanan yang dengan sukses mengawali langkah kami menjadi sebuah keluarga baru. Bahkan hingga saat ini, ketika hampir 2 tahun berlalu. Sungguh perjalanan singkat yang telah menjadi bagian perjalanan hidupku.


~ by si_kumbang on 20 May 2011.

3 Responses to “Satu Perjalanan untuk Selamanya”

  1. weh.. sip lah.
    de, dipengumuman kaskus linknya salah de.. hee..

  2. ada rute jelasnya?
    bagus pemandngannya🙂

  3. ini coba kubikinin rutenya kalo dari jembatan kali opak jl.parangtritis
    Peta Jalur Tembus Paris
    sekedar info, aku jg baru tahu, ternyata jalur ini cukup rawan kriminalitas. katanya dulu sering ada motor dirampok di jalur ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: