Buat apa KIK?

Kalo ditanyain, “Buat apa KIK?”, bakal kujawab, “Buat gaya-gayaan!”.

Kalo KIK itu tujuannya buat mensterilkan kampus UGM, sehingga hanya kendaraan yang berkeliaran di kampus tercinta, kenapa mahasiswa harus bikin KIK? Toh untuk membuktikan kalo aku ini mahasiswa UGM, udah ada KTM kan? Kenapa nggak nunjukkin KTM aja tiap masuk UGM?

Kalau alasannya demi keamanan kendaraan, masih harus juga pake KIK yang tertera nopol kendaraan? Nggak! Kalo emang tujuannya demi keamanan, nunjukkin STNK jauh terbukti lebih aman! Seperti yang dipake di mall-mall.

Sebenernya aku termasuk netral menyikapi penerapan portal di lingkungan UGM. Karena jujur selama ini aku merasa terganggu dengan kendaraan-kendaraan yang lalu lalang di sekitar kampus untuk motong jalan, udah gitu banyak yang ngebut lagi! Malah banyak pula kendaraan-kendaraan besar macam pick up dan truk ikutan motong jalan lewat jalanan UGM, pernah juga liat truk tinja lewat kampus! Maigatt!!!

Untuk alasan sterilisasi itu, menurutku pemakaian KTM sebagai akses masuk kampus lebih praktis. Tanpa harus berbondong-bondong puluhan ribu mahasiswa antre bikin KIK, yang tentu saja biayanya yang dikeluarkan kampus sangat besar untuk pengadaan KIK. Lain hal untuk para dosen, karyawan, dan mitra yang bekerja di UGM ya, KIK masih masuk akal. Toh jumlah pekerja di UGM pastinya jauh lebih sedikit dibanding mahasiswa, dengan cara ini penghematannya pasti jauh lebih besar.

Lagipula KIK itu kurang berguna dan terlalu kuno. Kalo mau yang lebih bermanfaat kenapa KIK nggak pake RFID sekalian, jadi bapak-bapak SKK nggak harus ngecek satu persatu KIK kendaraan yang lewat. Dan kalo mau lebih “canggih” dan “berguna” lagi, KTM dibikin ber-RFID biar bisa dijadiin kartu masuk kampus. Bandingkan dengan KIK saat ini, “jadul” banget cuma ada tulisan nopol, nama dan barcode. Jujur aku jadi berfikiran pengadaan KIK ini berbau proyek nih..

Kalo mau bener-bener profesional soal karcis-karcisan, kenapa nggak pake sistem kayak di mall aja. Karcis di-print, data kendaraan tercatat di database jadi nggak ada kebocoran duit. Dan bapak-bapak SKK kembali ke tugas sebenarnya menjamin keamanan kampus dan mahasiswa, bukannya jadi tukang parkir!

Jujur aja, aku lagi sakit hati dengan kebijakan KIK ini. Beberapa waktu lalu aku “terpaksa” harus bayar saat masuk ke fakultasku sendiri! Kenapa, nggak punya KIK fik? Bukan, aku punya KIK sejak 8 bulan lalu kok. Tapi sayangnya demi kepentingan TA, motor yang selama ini kupake di Jogja kutuker sama motor lain punya ibuku yang ada di rumah. Dan akhirnya nopol di KIK-ku nggak matching dengan nopol motor yang kupake saat ini di Jogja.

Selama ini aku berhasil masuk kampus soalnya KIK nggak terlalu diperiksa detail, yang penting nunjukin KIK aja. Nah waktu itu aku dicegat bapak SKK sampe motorku berhenti, seperti biasa aku nunjukkin KIK. Nah ternyata dia bener-bener ngecek nopol motor dan nopol di KIK. Udah kujelasin, di rumah tuh ada dua motor eh malah disuruh pake karcis dan bayar seribu rupiah!! Dengan alasan nanti kalo ilang gimana?? lah emang kalo KIK-ku bener terus motorku ilang ada asuransinya gitu? Udah gitu nulis di karcisnya nggak becus, yang ditulis cm angka nopol aja, tanpa huruf depan dan belakang! Kayak gini kok pake bawa-bawa motor ilang segala!

Dengan sangat terpaksa seribu perak melayang. Sorry ini bukan soal pelit. Tapi kenapa masuk ke kampus sendiri (spesifiknya, fakultas sendiri) harus bayar. Padahal tiap semester udah bayar berjuta-juta! Sejak saat itu, bener-bener bikin aku males banget ke kampus. Andaikan nggak ada kebijakan KIK dan cukup pake KTM, aku nggak bakal bermasalah seperti ini.

Memang banyak masalah yang bisa timbul dengan KIK, salah satunya kasusku tadi yang ganti motor. Lalu gimana kalo dalam satu keluarga punya banyak motor, nah si anak yang kuliah di UGM ini cuma punya KIK salah satu motor, padahal motor yang dipake ke kampus belum tentu motor yang ber-KIK itu. Atau misal kendaraan lagi diutasi, otomatis ganti nopol juga kan? Atau motor masih baru dan nunggu STNK, gimana bikin KIKnya, padahal motor itu bener-bener dibutuhin buat bolak-balik ke kampus. Atau motor/mobil lagi di bengkel dalam waktu lama, jadi harus ke kampus pinjem motor temen. Dan tentunya masih banyak kasus-kasus “tak terduga” lainnya yang merugikan mahasiswa.

Menurut berita disini di awal pemberlakuan desinsentif, UGM berhasil mengumpulkan Rp 3 juta dalam sehari hanya dari pengendara sepeda motor! Artinya dalam 30 hari UGM meraup Rp 90 juta. Belum lagi dari pengendara mobil yang tarifnya 2 kali pengguna motor. Kalo memang UGM sedang kekurangan uang, kurasa pihak UGM cukup kreatif untuk membuat unit usaha lain yang bisa mendapatkan keuntungan, bukan dengan mencekik mahasiswanya.

Katanya ada alasan lain dibalik KIK, yaitu UGM yang pengen jadi kampus educopolis. Kalo yang ini aku nggak bisa komentar banyak. Toh belum tersedia banyak alternatif lain buat mengelilingi UGM yang segede gitu selain pake kendaraan pribadi. Kampusku sendiri ada 2, MIPA utara dan MIPA utara yang jaraknya keduanya nggak kurang 1 km! Dan keduanya masih sama-sama dipake, tak jarang jadwal kuliah dalam sehari mengharuskan bolak-balik kampus utara-selatan berkali-kali. Mau jalan kaki, bisa pegel-pegel tuh kaki tiap nyampe kelas. Naik sepeda, tetep aja harus keluar modal lagi. Sedangkan sepeda hijau entah gimana kabarnya sekarang. Juga, nggak semua orang bisa naik sepeda!

Intinya, aku pribadi menolak KIK tapi kartunya aja beserta sistem perkartuannya. Namun cukup setuju dengan sterilisasi, karena kampus bukan tempat nongkrong di sore hari, jualan kaki lima, jalan shortcut, apalagi tempat buat mesum di maam hari!

~ by si_kumbang on 4 May 2011.

 
%d bloggers like this: