Dari offline ke online

Dari offline ke online

Beberapa waktu lalu saat bersama teman-teman di kantin MIPA selatan, tanpa sengaja kami duduk di sebelah seorang bapak yang sedang menikmati sebotol minuman bernama Saparella. Diawali rasa penasaran dengan minuman itu akhirnya kami mulai berbincang dengan bapak itu.

Ternyata bapak itu adalah seorang dosen lulusan S3 FEB UGM yang mengajar di prodi Rekmed. Beliau mengajar e-commerse. Dari beliaulah aku mendapat sedikit pengetahuan tentang dunia ekonomi terutama tentang e-commerce.

Menurut id.wikipedia.org , e-commerce adalah penyebaran, pembelian, penjualan,pemasaran barang dan jasa melalui sistem elektronik seperti internet atau televisi, www, atau jaringan komputer lainnya. Tentunya tak berbeda yang dijelaskan beliau.

Keuntungan yang didapat dari berbisnis dengan e-commerce salah satunya adalah selain jebolnya tembok pembatas geografis, juga dapat meminimalisir modal usaha. Karena bila ingin berjualan laptop misalnya, kita tak perlu membangun sebuah toko di dunia nyata yang tak murah tentunya. Cukup menyediakan gudang dan biaya pembuatan web.

Ada tiga hal yang menjadi kunci dari e-commerce ini. Yaitu pertama layout dari web “toko online”, kedua adalah gambar penjelas di web tersebut, dan yang terakhir adalah security atau pengamanan dari web tersebut. Layout haruslah yang menarik dan mudah dimengerti, jangan sampai konsumen batal bertransaksi hanya karena kebingungan mendapatkan informasi dari web yang kita buat. Gambar penjelas dari barang atau jasa yang kita jual juga harus jelas dan bisa menerangkan semua informasi yang dibutuhkan konsumen, namun tantangannya adalah gambar itu jangan terlalu besar ukurannya agar cepat dalam proses loadingnya. Security adalah hal yang terpenting untuk mencegah serangan-serangan dari luar yang dapat mengacaukan bisnis online kita. Hal lainnya yang dibutuhkan adalah kepercayaan, karena perbedaan geografis tadi dimana penjual dan pembeli tak bertatap muka.

Pemilik web atau pemilik bisnis lah yang menentukan sendiri batasan e-commerce ini. Apakah di dalam web itu menyediakan jual beli online dimana konsumen bisa memilih sendiri barang yang diinginkan lalu membayar via transfer bank. Atau juga konsumen dapat memilih dan memesan barang yang diinginkan namun untuk transaksi dan serah terima barang dilakukan di toko milik penjual. Atau dapat juga web tersebut hanya menyediakan informasi barang atau jasa yang ditawarkan namun untuk transaksinya dilakukan secara offline langsung di toko atau dengan telpon atau e-mail.

Era masa kini memang memiliki kecenderungan perubahan paradigma bisnis dari market yang tradisional dimana penjual dan pembeli bertemu secara langsung di suatu tempat. Sedangkan bisnis saat ini sudah merambah ke market online. Dimana tak ada lagi keharusan penjual dan pembeli berada di tempat yang sama, tak ada lagi batasan lokasi geografis.

Pola pikir masyarakat saat ini pun mulai menunjukkan pentingnya pasar di dunia maya, tentunya untuk menembus batasan geografis. Bila ada seseorang di Jakarta ingin berlibur ke Yogyakarta padahal dia belum pernah menginjakkan kaki di tanah Sultan, dia cukup mencari segala informasi di depan komputer. Dengan internet dia bakal menemukan informasi hotel lengkap dengan fasilitas dan harga per malam. Juga informasi tempat makan yang menarik di kota gudeg. Atau info transportasi mudah menuju berbagai obyek wisata. Bayangkan jika tak ada internet? Dia harus bertanya pada satu persatu rekannya yang pernah ke kota Jogja. Nah apa yang terjadi kalo teman-temannya juga belum pernah ke Jogja? Pasti dia bakal kesulitan saat berlibur di Jogja.

Ketika teman-teman di kampus mencari komponen elektronik yang tak dapat ditemui di Jogja. Dia tak harus jauh-jauh buang uang dan tenaga berlebihan untuk pergi ke Jakarta atau Surabaya mencari komponen tersebut. Tinggal buka laptop, konek internet, cari komponen yang diinginkan, bayar via ATM, dalam hitungan hari barang itu sudah ada di tangan.

Selain dengan cara membuat web sendiri yang tidak gratis tentunya, bisa juga berbisnis di web yang menyediakan “perantara” dimana kita bisa memajang barang yang ingin kita jual atau ingin kita beli. Untuk transaksinya bisa melalui telepon atau message. Salah satunya yang paling populer adalah http://kaskus.us . Penulis sendiri sudah berkali-kali mamanfaatkan web ini untuk mendapatkan barang yang tak dapat ditemukan di Jogja, atau barang-barang dengan harga jauh lebih murah dari harga pasaran offline. Namun yang terpenting adalah masalah kepercayaan.

~ by si_kumbang on 23 April 2010.

3 Responses to “Dari offline ke online”

  1. btw tulisanmu makin berbobot aja fik,

    yup, keuntungan dari online store adalah lebih praktis untuk saat ini, koe lagi memulai bisnis online store??

    yang penting dalam sebuah online store adalah manajemen promotionnya, misalnya mempopulerkan dengan SEO,
    mesti bnyk belajar dari pak haji ki

    atau dengan merambah di Social network biar makin polpuler..

  2. maaf anda siapa? fotonya cewe kok suaranya gerandong? wkwkwk

    beuh, online store apaan.. yg ada aku cm jadi konsumen online market. Merasa terbantu aja dgn online market, seolah dunia itu sempit. Mau beli apa aja pasti ada!

  3. …temen-temen, mampir
    iah ke blogkuuu, aku lagi ikutan lomba blog niihh,jangan lupa kasih
    coment iahhh,, kontribusi kalian sangat berarti …langsung klik ini
    iah : http://pelangiituaku.wordpress.com/2010/05/10/seorang-cowok-menjaga-kesehatn-kulit-wajar-nggak-sih/ … semangat blogger 2010 !!!! …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: