JOGJA: kota yang ramah? coba pikir lagi…!

2718550310059927817S600x600Q85

Jogja, kota yang selealu penuh sesak dikunjungi wisatawan kala libur. Saat hari “normal”-pun tak pernah terlihat kosong dari wisatawan baik lokal maupun mancanegara.

Katanya Jogja kota yang berbudaya, kota yang nyaman untuk berlibur dan belajar, kota yang ramah. Ya, Yogyakarta daerah paling unik di Indonesia dimana pemimpinnya bukanlah seorang gubernur melainkan seorang raja bernama Hamengkubuwono.

Sejak memutuskan menetap di Jogja 3 tahun lalu untuk menuntut ilmu di kampus yang makin mahal, aku merasa kota ini adalah ‘kota besar’ ternyaman yang pernah aku rasakan. Kota yang sudah mulai padat namun masih diselimuti toleransi penduduknya yang cukup tinggi.

Kala pertama berjuang di keramaian kendaraan Jogja, acap kali terjadi “gesekan” dengan pengendara lain. Meski motornya kusenggol sedikit namun orang itu tak naik darah. Saat membayar makanan di warung kaki lima ala Jogja dan uangku agak “ganjil” penjual-penjual itu sering dengan lantang menjawab, “udah mas kurangnya besok lagi aja” atau “lima ratusnya dibawa aja dulu, kembaliannya gak ada…”.

Tak jarang pula aku melihat kesusahan-kesusahan orang yang kemudian orang yang tak dikenalnya dengan tanpa pikir panjang langsung menolongnya.

Oohhh Jogja… begitu indahnya engkau! ujarku…

Hampir 2 bulan aku mesti menjauh dari Jogja dan KKN di sebuah desa yang masih cukup tertinggal meski hanya berjarak 29 Km dari ramainya dan majunya Jogja. Desa itu adalah Desa Seloharjo.

Desa yang membuatku tersadar bahwa yang Jogja tawarkan padaku itu belum seberapa dengan yang ada di Seloharjo. Disini kudapatkan keramahan yang sesungguhnya. Dimana tak semuanya dapat dinilai dengan materi.

Pertama kudapat kejadian itu saat teman-temanku survey lokasi KKN pertama kali bulan Februari 2009. Sore itu mereka berangkat ke Seloharjo untuk melihat keadaan disana apakah sanggup dijadikan tempat KKN kelak. Tapi seiring gelapnya hari hujanpun turun. Perjalanan pulang mereka yang baru beberapa langkah harus ditunda, mereka berempat harus berteduh di teras rumah seorang warga. Tanpa disangka sang pemilik malah menyuruh mereka berteduh di dalam rumah. Dan tanpa disangka lagi terdengar bunyi sesuatu digoreng, ya! sang penghuni sengaja menggorengkan gorengan untuk mereka. Tanpa tanggung, waktu makan malam datang mereka disuguhi makan malam di rumah itu.

Ya! itu sedikit pengalaman awal keramahan desa. Padahal Sang pemilik rumah sama sekali mengenal mereka sebelumnya, bahkan bertemupun baru kali itu. Mungkinkah hal ini terjadi di kota Jogja yang sudah semakin individualis? Yang sudah semakin penuh sesak oleh pendatang dari segala penjuru tanah air.

Setelah tinggal hampir 2 bulan di seloharjo aku semakin disadarkan bagaimana budaya ketimuran sesungguhnya yang dimiliki Indonesia. Tiap kali keluar rumah pondokan, semua orang di jalan-jalan yang kulalui selalu menyapa meski tak semuanya kukenal. Sepanjang jalan yang kulalui itu pula aku harus selalu menjaga senyuman dan berkata, “monggo pak..” “monggo bu..” “monggo mas..”.

Setiap kali aku dan teman-teman membutuhkan bantuan seperti pinjaman alat pertukangan, warga tentu dengan ramah mamnijamkan. Bahkan saat kami sekelompok ada masalah dengan pondokan, cukup dengan waktu beberapa jam saja seluruh warga segera tahu masalah yang kami alami dan saling memberi tawaran untuk tinggal di rumah mereka. Yang menawari tak hanya 1 orang, tapi banyak sekali!!!

Saat malam pentas seni perayaan 17 Agustus, beberapa orang tua yang telah duduk di bangku-bangku terdepan dari panggung malah disuruh pindah ke lesehan, katanya kursi-kursi itu untuk mas-mbak KKN.  Tak hanya itu, hanya kami yang disuguhi minuman dan snack padahal warga yang lain tidak. Oh, aku terenyuh.. sebegitu pentingkah kami bagi mereka hingga rela membiarkan ibu-ibu duduk di lesehan?

Terkadang seorang nenek datang ke pondokan dan memaksa kami untuk main ke rumahnya, ternyata hanya untuk memberi sekedar buah-buahan dari pohon mereka. Atau di saat kami sekelompok membuat suatu kegiatan, dengan antusias para warga turut berpartisipasi. Atau di saat kami menyerah mendata monografi secara door to door dan menyerahkan blanko monografi pada Pak Lodang, ketua RT 02 untuk mendata ke rumah warga-warganya. Cukup dalam semalam dia berhasil memenuhi semua blanko itu dan menyerahkannya ke pondokan kami.

Mungkinkah semua keramahan itu bisa kudapatkan di Jogja yang maikin individualis. Yang orang-orangnya sudah mulai menghitung segala sesuatunya dengan uang. Yang di dalam pikirannya berkata, “kalo gak bikin untung ngapain diurusin???”. Bahkan jujur, akupun tak mengenal semua penghuni perumahanku yang hanya ada 19 rumah, bahkan dengan tetangga depan rumahpun aku tak kenal! Benar-benar Jogja kini telah terkontaminasi “budaya” kota besar lain. Yang mulai cuek dengan lingkungan, mulai lunturnya kepekaan sosial. Orang-orang yang datang dari berbagai kota besar yang individual mulai menularkan keegoan mereka pada jati diri Jogja.

Di saat aku selesai KKN nanti yang jelas aku akan merindukan suasana keramahan yang sesungguhnya. Tak ada lagi senyum sapa yang kulontarkan sepanjang perjalananku keluar gang. Jika aku memaksakan diri untuk senyum dan sapa pada tiap orang yang kulewati hanya akan membuat sakit hati karena belum tentu dia akan bereaksi! Tak ada lagi pemberian-pemberian buah dari tetangga. Tak ada lagi kepedulian dan toleransi para warga desa.

SO, apakah anda masih berpikir Jogja itu kota yang ramah? Pikirlah kembali… Ya paling tidak pikiran itu masih benar jika dibandingkan dengan beberapa kota lain di Indonesia.

~ by si_kumbang on 25 August 2009.

4 Responses to “JOGJA: kota yang ramah? coba pikir lagi…!”

  1. tidak akan pernah lo dapet yg kaya gitu di jogja…..

    kota besar dan desa kecil tak dapat dibandingkan😀

    Multikultur namun tak Multinasionalisme… stiap suku ras terpisah…. lebih baik di desa daripada di kota? itu pun blum tentuu…

    nice post gan! ^_^ ngiri gw pengen KKN hakahka

  2. betul juga bim, tp dr keramahan dan keikhlasan masy. desa bikin aku sadar kalo kita makhluk sosial… gak bisa kita jadi orang yg bener2 cuek pada lingkungan karena kita yg akan kalah dengan kecuekan lingkungan…

  3. yoi setuju,bila keramahan Jogja dibandingkan dgn kota lain di Indonesia (pdhal saya baru cm muter2 pulau jawa aj,itu jg cm beberapa daerah di Jateng..hihihi)…liburan di Jogja cm 3 hari sgt berasa bgt beda dan ketimpangannyanya dgn kota kelahiran saya..haha,pas balik lg ke Jakarta lgs “jet leg”..hoho.Tp msh ada ko keramahan yg sesungguhnya dan toleransi antar sesama yg luar biasa walau di kota besar sekalipun (ya walaupun sgt jarang ditemui🙂..

  4. enggak kok bang, saya masih sering jumpa orang kaya di seloharjo sewaktu ke Jogja :3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: