Boediono… Bagaimana kehidupannya?

Jumat malam kemarin (15/5) menjadi momen penting bagi SBY-Boediono dalam mengukuhkan pencalonannya menjadi presiden-wakil presiden. Sebenarnya saya paling menghindari untuk menulis tentang politik apalagi masalah calon-calonan pres-wapres, aku merasa sebernya hal itu gak penting banget buat kehidupan rakyat secara langsung dan cuma membuat bingung rakyat awam serta hanya menjadi ajang show off para kader partai.

Tapi entah kenapa saya cukup tertarik dengan sosok Boediono, kenapa kemunculannya sebagai calon wapres langsung mendapat pertentangan hebat di berbagai daerah. Bahkan parpol-parpol yang tadinya menyanggupi berkoalisi dengan partai Demokrat juga sempat menolak.

Saat sedang browsing-browsing di internet, biasalah seperti rutinitas sehari-hari selalu ngenet, tanpa sengaja melihat halaman di KASKUS ada yang mem-posting foto kediaman Boediono di Jakarta. Terkejutlah ketika tahu rumah seorang gubernur BI yang sangat-amat sederhana! Terbayang dalam pikiran saya betapa mewahnya rumah para pegawai BI yang pernah kutemui, ya itupun yang pernah kulihat “cuma” pegawai/karyawan biasa. Tapi rumah gubernurnya kok malah sesederhana ini???

rumah boediono

rumah Boediono

Eh tanpa sengaja lagi waktu lagi ngelakuin rutinitas ngenet, nyasar ke blog milik Faisal Basri dan menemukan tulisan berjudul “Sisi Lain Pak Boed yang Saya Kenal”. Berikut ini ceritany:

Saya pertama kali mengenal Pak Boed pada akhir 1970-an lewat buku-bukunya yang enak dibaca, ringkas, dan padat. Pada akhir 1970-an. Kalau tak salah, judul-judul bukunya selalu dialawali dengan kata ”sinopsis,” ada Sinopsis Makroekonomi, Sinopsis Mikroekonomi, Sinopsis Ekonomi Moneter, dan Sinopsis Ekonomi Internasional. Kita mendapatkan saripati ilmu ekonomi dari buku-bukunya yang mudah dicerna.

Pada suatu kesempatan, Pak Boed mengutarakan pada saya niatnya untuk merevisi buku-bukunya itu. Mungkin ia berniat untuk menulis lebih serius sehingga bisa menghasilkan buku teks yang lebih utuh. Kala itu saya menangkap keinginan kuat Pak Boed untuk kembali ke kampus dan menyisihkan waktu lebih banyak menulis buku. Karena itu, ia tak lagi berminat untuk kembali masuk ke pemerintahan setelah masa tugasnya selesai sebagai Menteri Keuangan di bawah pemerintihan Ibu Megawati.

Pak Boed dan Pak Djatun (Dorodjatun Kuntjoro-Jakti, Menko Perekonomian) bekerja keras memulihkan stabilitas ekonomi yang “gonjang-ganjing” di bawah pemerintahan Gus Dur. Hasilnya cukup mengesankan. Pertumbuhan ekonomi mengalami peningkatan terus menerus. Di tengah hingar bingar masa kampanye seperti dewasa ini, Ibu Mega ditinggalkan oleh wapresnya, dua menko, dan seorang menteri (Agum Gumelar). Ternyata perekonomian tak mengalami gangguan berarti. Kedua ekonom senior ini bekerja keras mengawal perekonomian. Hasilnya cukup menakjubkan, pertumbuhan ekonomi pada triwulan keempat 2004 mencapai 6,65 persen, tertinggi sejak krisis hingga sekarang.

Selama dua tahun pertama pemerintahan SBY-JK, perekonomian Indonesia mengalami kemunduran. Tatkala muncul gelagat Pak SBY hendak merombak kabinet, sejumlah kawan mengajak Pak Boed bertemu. Niat para kolega ini adalah membujuk Pak Boed agar mau kembali masuk ke pemerintahan seandainya Pak SBY memintanya. Agar lebih afdhol, kolega-kolega saya ini juga mengajak Ibu Boed. Mungkin di benak mereka, Ibu bisa turut luluh dengan pengharapan mereka. Akhirnya, Pak Boed menduduki jabatan Menko Perekonomian. Mungkin sahabat-sahabat saya itu masih terngiang-ngiang sinyal penolakan Pak Boed dengan selalu mengatakan bahwa ia sudah cukup tua dan sekarang giliran yang muda-muda untuk tampil. Memang, Pak Boed selalu memilih ekonom muda untuk mendampinginya: Mas Anggito, Bung Ikhsan, Bung Chatib Basri, Mas Bambang Susantono, dan banyak lagi. Semua mereka lebih atau jauh lebih muda dari saya.

Interaksi langsung terjadi ketika Pak Boed menjadi salah seorang anggota Dewan Ekonomi Nasional (DEN). Saya ketika itu anggota Tim Asistensi Ekonomi Presiden (anggota lainnya adalah Pak Widjojo Nitisastro, Pak Alim Markus, dan Ibu Sri Mulyani Indrawati). Ibu Sri Mulyani memiliki jabatan rangkap (jadi bukan sekarang saja), selain sebagai anggota Tim Asistensi juga menjadi sekretaris DEN. Pak Boed tak pernah mau menonjolkan diri, walau ia sempat jadi menteri pada masa transisi.

Sikap rendah hati itulah yang paling membekas pada saya. Lebih banyak mendengar ketimbang bicara. Kalau ditanya yang “nyerempet-nyerempet,” jawabannya cuma dengan tersenyum. Saya tak pernah dengar Pak Boed menjelek-jelekkan orang lain, bahkan sekedar mengkritik sekalipun.

Tak berarti bahwa Pak Boed tidak tegas. Seorang sahabat yang membantunya di kantor Menko Perekonomian bercerita pada saya ketegasan Pak Boed ketika hendak memutuskan nasib proyek monorel di Jakarta yang sampai sekarang terkatung-katung. Suatu waktu menjelang lebaran, Pak Boed dan sejumlah staf serta, kalau tak salah, Menteri Keuangan, dipanggil Wapres. Sebelum meluncur bertemu Wapres, Pak Boed wanti-wanti kepada seluruh stafnya agar kukuh pada pendirian berdasarkan hasil kajian yang mereka telah buat. Pak Boed sempat bertanya kepada jajarannya, kira-kira begini: “Tak ada yang konflik kepentingan, kan? Ayo kita jalan, Bismillah …  Keesokan harinya, saya membaca di media massa bahwa sekeluarnya dari ruang pertemuan dengan Wapres, semua mereka berwajah “cemberut” tanpa komentar satu kata pun kepada wartawan.

Adalah Pak Boed pula yang memulai tradisi tak memberikan “amplop” kalau berurusan dengan DPR. Tentang ini, saya dengar sendiri perintahnya kepada Mas Anggito.

Ada dua lagi, setidaknya, pengalaman langsung saya berjumpa dengan Pak Boed. Pertama, satu pesawat dari Jakarta ke Yogyakarta tatkala Pak Boed masih Menteri Keuangan. Berbeda dengan pejabat pada umumnya, Pak Boed dijemput oleh Ibu. Dari kejauhan saya melihat Ibu menyetir sendiri mobil tua mereka.

Kedua, saya dan isteri sekali waktu bertemu Pak Boed dan Ibu di Supermarket dekat kediaman kami. Dengan santai, Pak Boed mendorong keranjang belanja. Rasanya, hampir semua orang di sana tak sadar bahwa si pendorong keranjang itu adalah seorang Menko.

Banyak lagi cerita lain yang saya dapatkan dari berbagai kalangan. Kemarin di bandara Soekarno-Hatta setidaknya dua orang (pramugara dan staf ruang tunggu) bercerita pada saya pengalaman mengesankan mereka ketika bertemu Pak Boed. Seperti kebanyakan yang lain, kesan paling mendalam keduanya adalah sikap rendah hati dan kesederhanaannya.

Dua hari lalu saya dapat cerita lain dari pensiunan pejabat tinggi BI. Ia mengalami sendiri bagaimana Pak Boed memangkas berbagai fasilitas yang memang terkesan serba “wah.” Dengan tak banyak cingcong, ia mencoret banyak item di senarai fasilitas. Kalau tak salah, Pak Boed juga menolak mobil dinas baru BI sesuai standar yang berlaku sebelumnya. Entah apa yang terjadi, jangan-jangan mobil para deputi dan deputi senior lebh mewah dari mobil dinas gubernur.

Kalau mau tahu rumah pribadi Pak Boed di Jakarta, datang saja ke kawasan Mampang Prapatan, dekat Hotel Citra II. Kebetulan kantor kami, Pergerakan Indonesia, persis berbelakangan dengan rumah Pak Boed. Rumah itu tergolong sederhana. Bung Ikhsan pernah bercerita pada saya, ia menyaksikan sendiri kursi di rumah itu sudah banyak yang bolong dan lusuh.

Bagaimana sosok seperti itu dituduh sebagai antek-antek IMF, simbol Neoliberalisme yang bakal merugikan bangsa, dan segala tuduhan miring lainnya. Lain kesempatan kita bahas tentang sikap dan falsafah ekonomi Pak Boed. Kali ini saya hanya sanggup bercerita sisi lain dari sosok Pak Boed yang kian terasa langka di negeri ini.

Maju terus Pak Boed. Doa kami senantiasa menyertai kiprah Pak Boed ke depan, bagi kemajuan Bangsa.

sumber: http://faisalbasri.kompasiana.com/2009/05/14/pak-boed-yang-saya-kenal/

_________________________________________

Kembali ke waktu sesaat setelah menonton acara pengukuhan SBY-Boediono di TV, ayah saya memberikan beberapa komentar yang membuat saya yakin siapa sebenarnya Boediono. Tanpa saya duga ternyata komentar ayah saya sejalan dengan tulisan Faisal Basri.

“kebeneran lah biar gubernur BI nggak Boediono lagi”, ujar ayahku. Bingung juga maksud ayahku itu apa. “selama dia yang jadi gubernur, gaji pegawai BI gak bakal naik…”, lanjutnya. Wah udah mulai nangkep nih gimana sosok Boediono. Menurut ayahku, Boediono itu orangnya bener2 “lurus” dan pelit. Kesehariannya pun katanya sangat sederhana.

Memang benar sejak kepemimpinannya, Boediono telah melakukan pemangkasan fasilitas. Salah satu yang kurasakan, jika sebelumnya keluarga kami mendapat jatah koran sebanyak dua buah yaitu harian Kompas dan Suara Merdeka, kini hanya satu saja yaitu Kompas. Bahkan aku pernah dengar bahwa di daerah lain langganan koran untuk karyawan benar-benar dihapus.

Menurut ayahku pun, Boediono itu adalah penganut ekonomi makro. Sehingga orang awam bakal menilai kalo dia kurang berpihak pada pengusaha/pedagang kecil. Aku sendiri sama sekali gak ngerti tentang ekonomi jadi kurang bisa berkomentar tentang apa itu ekonomi makro. Tapi lanjutnya, Boediono itu sama sekali bukan antek IMF bahkan dia termasuk pembenci IMF!

Selain bicara tentang apa yang dia kenal dari seorang Boediono, ayahku juga cerita bahwa rekannya yang ada di Jogja kini menempati rumah Boediono yang ada disana. Kebetulan juga rekannya itu dulu adalah mahasiswa Boediono.

Ya mungkin orang-orang di sekitar Boediono akan memberikan penilaian yang mirip. Ya terbukti dari penilaian ayahku yang serupa dengan yang diutarakan Faisal Basri. Yang saya salutkan, di zaman yang sekeras ini ternyata masih ada pejabat yang bersih seperti dia. Gaya hidupnyapun sama sekali tak mencerminkan seorang gubernur BI yang kudengar gajinya 150 juta/bulan. Tak seperti para anggota DPR yang kehidupannya terlihat sangat flamboyan dan bergelimang fasilitas padahal kerjaannya dipenuhi skandal-skandal yang memalukan, harusnya mereka malu pada Boediono!

Setelah menjadi cawapres, Boediono memilih mundur dari Gubernur BI. Langkah pasangan SBY ini sungguh tepat demi menghindari konflik kepentingan. Ia telah memberikan contoh baik bagaimana pejabat negara seharusnya bersikap. Ekonom yang dikenal bersahaja itu berani bersikap lugas terhadap hal yang sebenarnya tak diatur secara jelas. Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2008 tentang Pemilihan Presiden memang mewajibkan pejabat negara mengundurkan diri jika mencalonkan sebagai presiden atau wakil presiden. Tapi Gubernur BI tak termasuk pejabat negara yang terkena ketentuan ini.

Sesuai dengan penjelasan Pasal 6 undang-undang itu, pejabat negara yang wajib mundur adalah menteri, Ketua Mahkamah Agung, Ketua Mahkamah Konstitusi, pemimpin Badan Pemeriksa Keuangan, Panglima TNI, Kepala POLRI, dan pemimpin KPK. Tidak dicantumkannya gubernur bank sentral dalam ketentuan itu amat mengherankan. Posisi itu sama pentingnya dengan menteri, maka seharusnya dikenai ketentuan yang sama.

Namun dari keputusannya mengundurkan diri dari jabatan Gubernur BI telah menunjukkan keputusan yang bijaksana menurut saya dan patut ditiru oleh pejabat negeri yang lain jika akan melenggang ke bursa calon presiden.

Demikian selayang yang saya tahu tentang Boediono. Aku bukan pembela fanatik salah satu pasangan capres-cawapres atau simpatisan salah satu partai, bahkan sebelumnya selalu berpikiran sinis terhadap setiap “kelakuan” tokoh politik yang di mata saya banyak busuknya, tapi aku hanya tertarik saja dengan sosok seorang Boediono.

~ by si_kumbang on 17 May 2009.

One Response to “Boediono… Bagaimana kehidupannya?”

  1. hmm… tks, moga benar adanya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: