Renungan di malam itu

Jumat malam waktu aku ma Wibby Donny Fredy Adjie lagi duduk-duduk di alun-alun kidul jogja. Saat itu udah jam 11 malam lebih. Dari kejauhan aku liat seorang suami istri yang udah renta jalan perlahan-lahan. Dengan pakaian sedikit compang-camping si nenek menuntun si kakek yang berjalan sambil menggerak-gerakkan tongkatnya. Ya.. kakek itu buta! Satu tangan memegang tongkat dan tangan yang lain memegang mangkuk yang isinya uang recehan.

Selama ini aku paling gak suka yang namanya pengemis atau peminta-minta. Aku lebih menghargai yang namanya pengamen atau pemulung, di mataku mereka lebih mulia karena mencari uang dengan bekerja dan bukan meminta-minta. Tapi kali ini hatiku terhentak, seakan ada yang menamparku. Kakek nenek itu memang pengemis. Tapi mereka mengemis bukan karena malas atau ingin uang secara instan. Karena mereka renta dan tak mampu bekerja.

Aku yang duduk di trotoar langsung mengambil sedikit uang dan ketika kakek itu lewat langsung kumasukkan uang itu tanpa dia tau. Kulihat di mangkuk itu hanya ada beberapa logam uang. Oh God… bagaimana mereka bisa hidup dengan uang recehan itu yang terkadang aku sendiri suka meremehkan uang logam hasil kembalian. Ternyata uang yang selama ini nyaris tak ada artinya buatku, adalah nyawa untuk sebagian orang.

Malam yang dingin itu di saat sebagian orang sudah terlelap dengan empuknya kasur dan hangatnya selimut. Mereka masih harus menyusuri jalanan tanpa kutau kemana mereka akan berhenti.

Aku hanya berpikir, selama ini aku sering merasa tak puas dengan hidupku. Aku sering membandingkan hidupku dengan orang2 yang hidupnya lebih mewah dan bergelimang harta sedangkan aku selalu saja merasa uang bulanan dari orang tuaku selalu kurang dan selalu beralasan untuk terus meminta uang pada orang tuaku. Aku selalu berkeinginan saat aku lulus kuliah nanti bisa bekerja dengan pendapatan besar dan memanjakan diriku dengan harta. Aku sering mengumpulkan uang hingga jutaan rupiah untuk membeli suatu barang yang sebenarnya tanpa benda itu aku masih bisa hidup dan kuliahku masih tetap berjalan.

Coba sekarang aku lihat kedua pengemis itu. Kubayangkan seandainya aku yang menjadi mereka. Aku tak akan berpikir-pikir seperti tadi lagi. Yang ada di kepalaku hanyalah bagaimana cara agar kami bisa makan esok hari dan bagaimana malam ini kami bisa tidur tenang. Setelah aku bisa tidur tenang dan bisa makan pada esok harinya, yang kupikirkan berikutnya adalah bagaimana kami bisa makan malam. Hanya makan dan istirahat yang aku butuhkan. hanya itu yang kupikirkan.

Bandingkan dengan hidupku selama ini. Pikiranku dipenuhi dengan ambisi-ambisi yang kadang membuatku menjadi makhluk yang berpikir egois dan tak memikirkan orang-orang di sekitarku. Bahkan terkadang pula aku menjadi makhluk yang anti sosial saat aku merasa nyaman dengan kehidupanku di dunia maya.

Saat itu aku sadar. Bahwa aku hidup tak hanya sendiri di dunia. Dan aku sadar hidup itu tak melulu melihat ke atas. Cobalah lihat orang di sekitar kita yang sangat kekurangan dan tak seberuntung aku. Sampai saat ini aku masih bisa kuliah dibiayai orang tuaku. Tinggal di perantauan dengan biaya yang kalo dihitung tak bisa dibilang sedikit dengan berbagai dukungan lain dari orang tuaku.

Di dalam pikiranku sudah tertanam berbagai rencana bagaimana masa depanku nanti, dengan sekelumit susunan peta hidup. Tapi apa aku pernah melihat seseorang yang hidupnya hanya berpikir bagaimana dia bisa bertahan hidup esok hari. Atau seorang suami yang harus menghidupi sekeluarganya dengan uang yang sama besarnya dengan biaya hidupku satu orang? coba bayangkan…

Kadang aku berpikir bagaimana aku bisa mengeluarkan uang untuk sesuatu yang sebenarnya gak terlalu penting. Sedangkan aku pernah melihat seorang nenek memulung gelas plastik air mineral dengan berpenghasilan Rp 2000 per 2 hari. Padahal buatku 2000 rupiah itu nyaris tak berharga, bahkan untuk aku 1 kali makan pun tak cukup. Tapi bagaimana dia bisa bertahan hidup selama ini? Bagaimana aku bisa sering menyia-nyiakan uang sementara uang itu sangat berharga untuk menyambung nyawa orang lain?

Kemarin siang aku juga sempat membaca blog saudaraku . Aku menapat pelajaran bahwa hidup itu tak harus selalu rumit. Teman dari saudaraku itu yang seumuran aku telah menikah sejak 4 tahun lalu dan memiliki 2 orang anak. Oh God, umurku saja sekarang baru akan menginjak 21 tahun. Berarti dia menikah di umur sekitar 17 tahun. Sedangkan aku saja sama sekali belum terpikirkan untuk menikah. Tapi itulah pilihan. Belum tentu orang yang menikah dini bakal tak hidup bahagia. Nyatanya dia saja sekarang udah beranak 2. Ternyata gak semua orang harus berpikiran sama denganku yang mementingkan kuliah dan saat lulus nanti harus bekerja dengan gaji yang besar. Tidak! Hidup itu berwarna. Gak perlu semua orang memiliki tujuan hidup yang sama denganku atau aku yang memiliki tujuan hidup sama dengan orang lain. Aku tak mau menjadi orang yang ambisius. Aku cuma mau menjadi orang yang punya mimpi tapi bukan khayalan. Aku gak mau ambisiku bakal membanting aku dari satu tujuan yang aku gak bisa meraihnya.

Aku juga merasa beruntung. Karena Allah masih mendukungku untuk meraih tujuan hidupku. Allah masih mengijinkanku kuliah untuk mempersiapkan masa depanku. Entah apa jadinya jika aku tak dapat kesempatan untuk berkuliah. Dan aku juga harus merasa bersyukur memiliki orang tua yang masih mampu menyuport aku. Meski hidupku tak mewah tetapi setidaknya berbagai kebutuhan hidupku masih bisa terpenuhi. Hidup itu harus sesekali melihat ke atas tetapi harus selalu melihat ke bawah agar aku masih bisa bersyukur atas apa yang aku dapat dan belajar realistis pada setiap hal tanpa meninggalkan keluasan hidup.

Udah lah makin lama makin gak jelas mo ngomong apa nih…

~ by si_kumbang on 18 April 2009.

13 Responses to “Renungan di malam itu”

  1. nice posting and mouming fik.
    pernah berpikir nggak fik, kadang hidup itu imposible but posible?
    contohnya cicak, kenapa cecak bisa makan nyamuk dan tidak mati kelaparan??

  2. matur thank you tah…
    trus kenapa cicak bisa nempel di tembok? itu karena kaki cicak memiliki kemampuan untuk melekat di permukaan kayak buletan yg buat nempelin boneka di kaca itu… Lah trs hubungannya apa ya???hahaha

  3. hmmmmm…
    fik met hari burung ya fik…
    moga tambah dewasa dan keren fik…
    setia ma calon arang, eh calon istri….

    nah itu kan cicak punya kemmpuan fik, sekarang tinggal gmana kita mempunyai kemampuan juga fik, kemampuan untuk bertahan dan beradaptasi fik

  4. sepertinya abis merenung ya fik, omongannya jadi sendu gitu, hehehe

  5. hoaa….jadi terharuuu

  6. @fattah: tenkyu2 tah…hari kebebasan burung…

    iya tah Allah tu sebenernya udah memberi kemampuan setiap makhluk hidup buat bertahan hidup dalam keadaan terburukpun. asalkan makhluk itu mau berusaha, ya bentuk usaha itu apalagi kalo bukan BEKERJA!!! bkn cm bermalas2an nunggu makanan datang tp harus dicari…

  7. @woro: ga tau ni wor apa yg terjadi dgn diriku..halah…
    tu juga sebenernya terpengaruh postingan di blogmu kok wor yg berhasil membuka mataku kalo hidup itu ada banyak warna… thanx wor..

  8. @ade: masa sih de jd terharu? padahal cuma tulisan acak kadut gt loh… hehe
    thnx for comin!

  9. fik, dah aku link back tu

  10. tenkyu2 wor…

  11. :: menhaRukan…

    (-.-)

    :: jamaN skaRaNg teNyata masi ada yah oraNg yang kek kaka???

    hhhohohoo

    :: buWat peLajaran juga buat kita…

  12. ga jg lah…
    org yg masti punya hati jg pasti gakal kayak gt jg kok…

  13. bagus , siip, kembangkan terus rasa seperti itu, ciptakan model orang berperasaan seperti anda, saya jga pernah berkomunikasi dengan orang buta bahakan saya rekam saya tanya tentang motivasi hidupya…dan…semuanya terjawab…mengalir bagaikan air…..dia juga tidak menyalahkan TUHAN….Percayalah hidup ini akan berakhir sudsahkah kita memikirkan SURGA ??? NERAKA ???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: