Empat Fase Kehidupan

•25 October 2014 • 1 Comment

Setahun lalu adalah titik balik kehidupan saya terutama dalam hal karir. Ya, dalam 1 tahun belakangan saya sudah merasakan bekerja di 3 perusahaan berbeda plus merasakan nggak enaknya jadi job seeker alias pengangguran.

25 Oktober 2013 adalah hari terakhir saya berstatus sebagai karyawan PT BUMA, salah satu kontraktor tambang batu bara nasional . Kalo diingat-ingat keputusan saya saat itu cukup nekat, karena berani meninggalkan zona nyaman dan memutuskan jadi pengangguran. Pekerjaan yang berhubungan dengan hobi, lingkungan kerja yang udah seperti keluarga sendiri, salary dan fasilitas yang gak bisa dibilang sedikit untuk ukuran anak baru lulus, dan status karyawan permanen. Rasanya ada dorongan kuat dalam diri saya saat itu untuk meninggalkan kenyamanan tersebut, seperti ada bisikan bahwa sesuatu yang lebih indah telah menunggu saya.

Minggu-minggu awal menganggur cukup berat rasanya, yang sebelumnya pagi saya selalu disibukkan dengan email, SAP, meeting, excel, botol sampel SOS, tiba-tiba semuanya hilang. Butuh waktu untuk mulai membiasakan bangun siang hehe.

Tidak mau berlama-lama berstatus sebagai pengangguran, langsung menaikkan status jadi Continue reading ‘Empat Fase Kehidupan’

+1

•22 April 2013 • 1 Comment

Di tanggal yang sama dengan hari ini, tepat sekian tahun yang lalu, untuk pertama kalinya seorang ibu melihat anak laki-laki satu-satunya lahir ke dunia. Bocah lelaki itu adalah aku.
Dan kini, setelah dua puluh sekian tahun berlalu, sang anak berada jauh dari keberadaan sang ibu dan keluarganya. Berada di pulau yang berbeda, dengan jarak lebih dari 1000 km.
Kalau kuingat awal kuliah dahulu, tak pernah kubayangkan kalau aku bisa bekerja dan tinggal di tempat sejauh ini. Meski di penghujung masa kuliah, pernah terbesit dalam pikiranku untuk bisa bekerja di suatu tempat di Indonesia yang benar-benar asing bagiku. Ya, ternyata pikiran itu menjadi doa yang didengar oleh Tuhan.
Yang awalnya aku sangat pesimis apakah aku bisa bertahan setidaknya hingga satu tahun di tempat ini, dan setahun itupun ternyata telah berlalu tanpa terasa. Dan tepat sebelum tanggal ulang tahunku, aku juga sanggup “mencapai” langkah yang lebih maju dalam perjalanan hidupku, terutama karirku.
Merasa hebat? Tidak, hanya sedikit puas karena bisa membuktikan pada diriku sendiri bahwa target-target yang kubuat bisa kucapai dengan segenap usaha dan doa.
Jika tahun lalu, aku bisa “memulai karir” dan mencoba hidup di atas kaki sendiri sebelum ulang tahunku di 2012, pada ulang tahun di 2013 ini aku bisa mencapai level yang lebih “advance” dalam karir.
Rasa syukur selalu kuingat, tapi aku sadar pula ini belum apa-apa. Masih banyak “tantangan” di luar sana yang mesti kutaklukkan. Butuh strategi baru untuk mencapainya!

Kenapa Harus Meninggalkan Jogja?

•14 February 2013 • Leave a Comment

Hampir 11 bulan sudah aku meninggalkan Jogja. Kota kecil yang telah menjadi saksi kehidupanku beberapa tahun terakhir.
Semakin lama tinggal di kota ini, semakin membuatku betah. Sampai akhirnya aku ‘terpaksa’ angkat kaki dari Jogja.
‘Terpaksa’ meninggalkan Jogja bukan tanpa alasan. Selain minimnya peluang kerja yang sesuai dengan background pendidikanku sehingga harus mencari nafkah di kota lain, ada satu alasan pribadi yang mendorongku untuk ‘mengusir diri’ dari tanah sultan.
Selama ini aku cukup iri dengan orang-orang yang begitu rindu dengan Jogja, serta iri dengan orang-orang yang menikmati Jogja sebagai tempat berlibur dan bersenang-senang. Sedangkan bagiku, Jogja adalah tempat berpusing-pusing menimba ilmu dan mengejar gelar sarjana.
Sejak mulai mengerjakan Tugas Akhir, aku berjanji pada diriku sendiri, aku akan pergi sejauh mungkin dari Jogja agar aku tau rasanya merindukan kota ini dan merasakan liburan yang sesungguhnya saat aku kembali ke Jogja.
Terdengar agak lebay memang, sebegitunya dengan kota yang kalau dipikir sih biasa aja kotanya. Tapi hal tersebut ternyata dirasakan oleh banyak teman-temanku🙂 .
Dan kini, setiap kali aku ada di pulau seberang kota itu selalu ada di bayanganku. Setiap kali menjelang cuti, bayangan Jogja selalu memenuhi pikiranku. Hingga akhirnya cuti itu berakhir, berat sekali rasanya harus berpisah lagi dengan Jogja seisinya.

Hai, I’m back :D

•10 July 2012 • 1 Comment

Tanpa sadar, setahun belakangan agak jahat juga sama blog sendiri. Nyaris satu tahun tepat aku gak posting apapun.
Sebetulnya bukannya males posting atau udah lupa kebiasaan tulis-menulis. Tapi kalo dirunut setahun ke belakang, there are lot of things happened in my life.
Sampai akhir 2011 sendiri hidupku jungkir balik bikin tugas akhir yang gak kelar-kelar, nulis-nulis skripsi, hingga mempersiapkan sidang pendadaran.
Awal 2012 hidup gak kalah berwarna. Diawali dengan pendadaran yang beruntungnya berjalan dengan sangat mulus, nyelesein revisi dalam waktu 2 jam aja, hingga akhirnya yudisium dan naik ke pelaminan, eh mimbar wisuda maksudnya!
Itu aja? Sebenernya nggak juga, karena wisuda sama sekali bukan akhir dari perjuangan. Di saat itulah awal perjuangan hidup yang sesungguhnya dimulai.
Perjuangan pertama yang kuhadapi adalah CARI KERJA!! Ya, beruntungnya beberapa saat setelah yudisium ada job fair di kampus. Kalo aku bilang sih job fair itu pestanya para pengangguran hehe. Dan aku adalah salah satu pengengguran itu!
Agak membabi buta di job fair itu. Segala perusahaaan yang sekiranya menarik langsung di-apply. Psikotes dan interview mendadak jadi makanan sehari-hari.
Hingga akhirnya sebulan setelah wisuda, yaitu di akhir Maret, dapat satu panggilan kerja dari suatu perusahaan. Seneng dong dapet kerja? GAK! malah bingung, mau diambil apa gak karena menurutku ini bukan hal yang sepele.
Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya kini aku bergabung dengan perusahaan itu. Dan secara cukup signifikan telah mengubah hidupku.
Aku tak lagi hidup di Jogja, kota yang sangat kucintai. Aku juga harus meninggalkan kota kelahiranku Purwokerto beserta keluargaku di dalamnya. Ya, kini aku berdomisili di Kalimantan.
Di kota bernama Samarinda. Iya, Samarinda coret alias pinggiran kok😛
Berpindah dari zona nyaman ke sebuah tempat yang cukup jauh, tanpa ada satupun orang yang dikenal, merupakan tantangan tersendiri untukku. Dan aku yakin aku akan survive di sini.

Jangan Biarkan Kekhawatiran Mengintimindasi

•30 July 2011 • Leave a Comment

Ya,mari kita menggalau lagi. Tentunya masih based on my true story.
Sering banget aku merasakan kekhawatiran yang berlebihan saat akan mengambil suatu keputusan. Khawatir hasilnya buruk, khawatir dicela orang lain, atau kekhawatiran-kekhawatiran lainnya. Biasanya perasaan itu muncul setelah melihat hasil yang dilakukan orang lain. Bila orang lain menghasilkan sesuatu yang tidak terlalu sempurna, rasanya aku pengen banget menghasilkan sesuatu yang lebih sempurna dari dia. Pikiran rasanya dihantui kekhawatiran-kekhawatiran akan mendapatkan hasil yang lebih buruk dari yang kuharapkan.
Hasilnya, pikiran tenaga dan waktu kukorbankan untuk mendapatkan hasil sempurna itu. Segalanya benar-benar dipikirkan untuk menghasilkan “celah” seminimal mungkin. Segala macam pemikiran dan argumen muncul memenuhi isi kepala.
Sayangnya kekhawatiran-kekhawatiran itu kadang justru begitu mengintimindasi diriku sendiri. Terlalu asyik dengan argumen-argumen dan segala teori untuk membuatnya “sempurna”. Bukan hasil sesuai dambaan yang kudapat, namun waktu yang banyak terbuang dan otak yang “overload”. Hasilnya? Terkadang justru aku tak mendapatkan apa-apa. Kesempatan pergi begitu saja sebelum aku sempat melakukan “action”.
Padahal apa yang terjadi pada orang lain belum tentu akan terjadi pada kita. Misal ketika seorang dosen mencela tugas yang dibuat seorang teman padahal tugas yang dia buat sama persis dengan kita namun belum tentu sang dosen juga akan mencela tugas milik kita. Begitu banyak faktor yang dapat mempengaruhinya, dan tentu saja salah satu adalah kuasa Tuhan. Jadi lakukan saja yang terbaik yang kita bisa, jangan sampai terkurung dalam kekhawatiran, sisanya biar Tuhan yang menentukan.
Kehawatiran sebenarnya perlu juga, sebagai pemacu untuk bertindak lebih baik. Namun jangan biarkan dia mengintimindasi dan membuat kita takut melangkah. Toh masih ada Allah yang maha berkehendak dan selalu punya rencana untuk kita. So, stop berargumen dan action!

Semua Terjadi Pasti Ada Alasannya

•24 July 2011 • Leave a Comment

Setahun yang lalu seseorang berkata padaku, Tuhan pasti punya alasan dibalik setiap hal yang terjadi pada makhluk-Nya. Dan semalam kudengar lagi kalimat yang sama dari seorang sahabat.
Kesalahan manusia adalah jarang bisa memahami setiap alasan tersebut, namun lebih memilih untuk menyesal. Bila kita cermat, kita pasti bisa mengambil hikmah atau pelajaran dari setiap kejadian yang dialami baik itu kejadian baik maupun buruk.
Tuhan takkan menakdirkan sesuatu begitu saja, pasti Dia punya alasan dibaliknya. Tugas manusialah mengubah alasan tersebut menjadi sebuah pelajaran. Tuhanpun memiliki alasan yang berbeda-beda untuk setiap umat-Nya.

Kuliah Itu…

•20 July 2011 • 1 Comment

Rasanya beberapa waktu terakhir blog ini lebih banyak diisi postingan gak penting atau bisa dibilang postingan “sampah”. Maklum, tekanan hidup lagi gak santai nih akhir-akhir ini. Nah posting kali ini coba nulis yang santai-santai aja deh, meskipun kurang penting juga kalo dipikir-pikir, tapi siapa juga yang mau capek-capek mikir coba?!😀

Bener banget kalo hingga detik ini status mahasiswa masih kusandang. Bahkan saat 3 bulan lalu ke kantor kecamatan buat perpanjang KTP, terpaksa juga memperpanjang status pekerjaan yang tertulis di KTP dengan titel “pelajar/mahasiswa”. Padahal kalo liat temen-temen seumuran udah pada sibuk dengan pekerjaan atau bahkan sibuk dengan istri/suami dan anak-anaknya.

Tapi sudahlah, aku sadar jalannya beda-beda. Setidaknya masih ada sisi beruntungnya juga, aku masih bisa bebas ke kampus kapanpun aku mau dan menikmati Jogja sepuasnya, padahal temen-temen yang udah lulus dan hengkang dari Jogja sepertinya begitu merindukan masa-masa kuliah dan tinggal di Jogja. Dan aku jelas lebih beruntung karena masih bisa menikmatinya.

Ngomong soal kuliah, begitu banyak hal yang menjadi ciri khas dan dan kewajiban bagi manusia yang menjalaninya. Apa aja tuh? Yuk ah Continue reading ‘Kuliah Itu…’

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.