Jangan Biarkan Kekhawatiran Mengintimindasi
Ya,mari kita menggalau lagi. Tentunya masih based on my true story.
Sering banget aku merasakan kekhawatiran yang berlebihan saat akan mengambil suatu keputusan. Khawatir hasilnya buruk, khawatir dicela orang lain, atau kekhawatiran-kekhawatiran lainnya. Biasanya perasaan itu muncul setelah melihat hasil yang dilakukan orang lain. Bila orang lain menghasilkan sesuatu yang tidak terlalu sempurna, rasanya aku pengen banget menghasilkan sesuatu yang lebih sempurna dari dia. Pikiran rasanya dihantui kekhawatiran-kekhawatiran akan mendapatkan hasil yang lebih buruk dari yang kuharapkan.
Hasilnya, pikiran tenaga dan waktu kukorbankan untuk mendapatkan hasil sempurna itu. Segalanya benar-benar dipikirkan untuk menghasilkan “celah” seminimal mungkin. Segala macam pemikiran dan argumen muncul memenuhi isi kepala.
Sayangnya kekhawatiran-kekhawatiran itu kadang justru begitu mengintimindasi diriku sendiri. Terlalu asyik dengan argumen-argumen dan segala teori untuk membuatnya “sempurna”. Bukan hasil sesuai dambaan yang kudapat, namun waktu yang banyak terbuang dan otak yang “overload”. Hasilnya? Terkadang justru aku tak mendapatkan apa-apa. Kesempatan pergi begitu saja sebelum aku sempat melakukan “action”.
Padahal apa yang terjadi pada orang lain belum tentu akan terjadi pada kita. Misal ketika seorang dosen mencela tugas yang dibuat seorang teman padahal tugas yang dia buat sama persis dengan kita namun belum tentu sang dosen juga akan mencela tugas milik kita. Begitu banyak faktor yang dapat mempengaruhinya, dan tentu saja salah satu adalah kuasa Tuhan. Jadi lakukan saja yang terbaik yang kita bisa, jangan sampai terkurung dalam kekhawatiran, sisanya biar Tuhan yang menentukan.
Kehawatiran sebenarnya perlu juga, sebagai pemacu untuk bertindak lebih baik. Namun jangan biarkan dia mengintimindasi dan membuat kita takut melangkah. Toh masih ada Allah yang maha berkehendak dan selalu punya rencana untuk kita. So, stop berargumen dan action!

