Dibuang Sayang Edisi Merapi: “Dan Akupun Pulang” Part 2

“Dan Akupun Pulang” Part 2

Awalnya aku berencana tetap tinggal di jogja. Namun seiring berjalan waktu, dapet kabar kalo temen-temenku banyak banget yang pulang, yang kebanyakan alasannya karena disuruh pulang orang tuanya yang taunya di tv tuh Jogja begitu mencekam. Termasuk sang pacar yang juga dipaksa buru-buru pulang sesegera mungkin tanpa boleh nunggu lagi walau semalampun bertahan di jogja. Memang sejak Jumat pagi ada pengumuman kalo perkuliahan di UGM diliburkan sampai seminggu.

Selain itu, warung-warung makan juga banyak yang tutup. Wah bisa gak makan kalo gini! Lagipula aku juga agak was-was kalo harus beli makan diluar, mengingat tebaran abu vulkanik yang gak kenal tempat dan waktu. Hingga Jumat malam, Jogja makin terasa sepi. Jalanan sangat lengang. Di perkampungan kost-kostan kayak di pogung jauh lebih terasa sepi akibat banyak ditinggal pergi mahasiswa.

Kondisi kesehatan, fisik dan perutku tampaknya makin terancam aja kalo tetap bertahan disini. Tepat seminggu sudah aku bergumul dengan abu vulkanik yang begitu jahat bagi pernafasan dan mataku. Dan dapet saran dari seorang teman, katanya, “selagi sempet buat pulang ya pulang aja walau cuma bentar”. Nah begitu dapet nasehat dari temenku ini aku langsung berniat pulang di Sabtu pagi, walau kayaknya cuma bisa pulang bentar.

Sabtu pagi, langsung kutelpon Jiwo yang katanya pagi itu mau pulang ke terminal naik bis. Kuajakin buat pulang bareng ke purwokerto naik mobilku aja. Awalnya aku pengen naik bis, tapi dari berbagai informasi konon bis menuju Purwokerto ramai banget. Ya jelas aja, ratusan bahkan ribuan orang melakukan perjalanan dala waktu bersamaan keluar Jogja ya pasti ramainya udah kayak arus mudik lebaran aja! Lagipula kalo mobilku ditinggal di Jogja dan dibiarkan bermandikan abu vulkanik, bisa-bisa waktu aku udah balik Jogja tuh mobil tua bakal jadi candi! Akhirnya kuputuskan pulang naik mobil aja, toh ada temennya inih.

Rencana berangkat jam 8 pagi. Namun berbagai acara beres-beres rumah dan bersih-bersih mobil mbakku baru selese jam 8 itu. Ya udah, akhirnya aku baru berangkat jemput Jiwo di kosannya jam setengah 9. Eh ternyata si Aji juga mau ikutan nebeng pulang. Dia katanya udah sampe ke terminal Giwangan tapi yang ngantri naik bis Efisiensi jurusan Purwokerto banyaknya gak ketulungan. Akhirnya si Aji nunggu aku dan Jiwo di Gamping. Berhasil jemput di gamping, langsung menuju Purwokerto.

Jalanan sepanjang Jogja-Purworejo cukup lancar namun masih diselimuti sisa abu vulkanik yang bertebaran namun gak tebal dan sama sekali gak mengganggu penglihatan.

Namun dramatisnya, begitu memasuki Purworejo kota, abu yang bertebaran sangat amat tebal. Malah jarak pandang di jalanan paling-paling cuma 10 meter! Semua mobil dan motor yang ada di situ cuma berani jalan pelan-pelan dan tak lupa nyalain lampu. Kalo dilihat tumpukan abu yang ada di pinggir jalan kira-kira sekitar 10cm. Kondisi ini tak begitu berbeda sampai mobil kami sampai di Prembun, Kebumen. Di sekitar kebumen ini debu yang beterbangan tak terlalu pekat, dan hanya berkeliaran kesana kemari hanya saat ada mobil yang lewat.

Begitu melewati perbatasan Banyumas-Kebumen di daerah Tambak, Banyumas suasana yang kami rasakan benar-benar berbeda. Mataku kerasa jadi seger banget! Ternyata penyebabnya adalah abu vulkanik di daerah ini udah benar-benar tipis dan nyaris gak keliatan lagi. Rumput-rumput di pinggir jalan, dedaunan pohon-pohon di sepanjang jalan benar-benar terlihat warna aslinya yang kehijauan dan menyegarkan mata. Maklum, selama seminggu ke belakang kami bertiga hampir gak pernah ngeliat daun berwarna hijau! Gara-gara semua tanaman ketutup abu. Gak cuma itu, warna-warni bangunan dan berbagai spanduk atau papan reklame yang warnanya mencolok mata juga turut membuat kehidupanku terasa lebih berwarna. Hidup yang gak cuma putih abu-abu! Ibarat komputer, baru aja ganti VGA card yang bikin grafik jadi lebih mantab! Hahaha

Sampai di kemranjen kuarahin mobilku lewat jalan pintas yang gak perlu lewat lagi daerah Buntu. Jalur ini oke banget pemandangannya. Udara pedesaan yang bener-bener seger, dengan pepohonan rindang di kanan kiri jalan. Disertai jalanan  yang cukup ekstrim tanjakannya. Jika diukur tanjakan terjal yang ada panjangnya sekitar 2 km dengan kemiringan mendekati 45˚.

Tiba-tiba di tanjakan terjal yang terakhir, di tengah tanjakan tiba-tiba tenaga Katanaku drop. Langsung oper gigi dari 2 ke 1. Ternyata RPM yang sewajarnya langsung menanjak setelah pindah gigi ke yang lebih rendah, malah RPM jalan di tempat cenderung terus turun. Mobil makin pelan dan akhirnya berhenti. Langsung tarik rem tangan, eh eh eh kok rem tanganku gak mampu menahan laju mobil yang terus mundur! Sambil berusaha tetap tenang, liat di spion Avanza hitam yang sejak tadi ada di belakangku berhenti menunggu kami di bawah. Syukurlah, seenggaknya Avanza item itu gak benar-benar di belakangku saat mobilku lagi stuck di tanjakan.

Gara-gara rem tangan yang gak benar-benar mampu menahan gelindingan mobil, kaki kanan harus gantian nginjek pedal rem dan gas buat coba jalan lagi. Coba pedal gas kubejek sampai 4000-an RPM trus kopling kulepas, ternyata mobil gak beranjak naik justru RPM makin turun. Sekitar 3 kali dicoba, kayaknya ada yang gak beres dengan Katanaku ini. Padahal biasanya dengan kondisi yang sama mobil tetap bisa jalan meskipun dengan merayap perlahan-lehan. Ya udahlah, menyerah! Mobil kumundurkan pelan-pelan keluar dari tanjakan. Sekitar 100 meter di belakang ada jalan yang cukup datar, lumayan buat meminggirkan mobil.

Sambil ngaso sekalian ngademin mesin, kami semua keluar dari mobil. Sekalian menghirup udara yang benar-benar segar khas perbukitan dan memanjakan mata dengan hijaunya tanaman sekitar.  Hal yang udah seminggu sangat asing bagiku selama di Jogja. Setidaknya coba mengambil hikmah lain dari setiap kesulitan yang dihadapi.

10 menit berlalu, kami masuk mobil. Buat coba nerusin usaha menaiki tanjakan terakhir ini. Start mesin, masukin gigi 1, mulai merayap pelan-pelan. Wah kayaknya berhasil nih. Eh tiba-tiba di titik yang sama kayak sebelumnya kami terhenti, mobil kembali berhenti. Coba jalan lagi gak bisa. Mesin gak mati, cuma kayak kehilangan tenaga. Ya udah gelindingin lagi mobil ke bawah.

Coba ngademin mobil lebih lama lagi. Sambil pura-pura nongkrong di pinggir jalan, sambil makan snack yang tadi dibeli Jiwo di Alfamart. Ada juga permainan bodoh yang kami lakukan, yaitu coba membunuh lalat-lalat yang pada hinggap di kap mesin Katana. Trik yang diajari Jiwo, nyentil lalat dari arah muka lalat. Gak tau kenapa Jiwo selalu berhasil sedangkan aku dan Aji gagal mulu!

30 menit berlalu,mesin udah jauh lebih dingin. Siap-siap buat coba mendaki tanjakan lagi. Kalo ini gagal, aku punya 2 opsi. Puter balik ke Kemranjen lagi dan lewat jalur Buntu, atau hubungin bapakku buat minta pertolongan. Mesin di-start, masukin gigi 1, gak lupa berdoa dulu, jalan pelan-pelan meter demi meter. Yap, akhrinya tanjakan berhasil kami lalui. Leganya…! Setelah tanjakan itu terlewati, kami tinggal jalan menggelinding menuruni bukit yang jaraknya gak lebih dekat dibanding tanjakan yang dilewati sebelumnya.

Akhirnya perjalanan kami memasuki Purwokerto. Sebuah kota yang kini jauh lebih hidup dibanding Jogja, soalnya jauuuuh lebih berwarna. Gak cuma ada warna putih abu-abu doank! Dan mobil-mobilnya pada bersih-bersih!

Langsung nganterin para korban letusan Merapi, nganterin Aji ke rumahnya di karangkobar, terus nganter Jiwo di Bobosan. Terakhir ya nganterin korban merapi terakhir yaitu aku sendiri. Jam setengah 3 kurang aku udah ada di rumah. Jadi total perjalananku kali ini sekitar 5,5 jam. Sebuah waktu yang gak normal, dengan alasan kepulangan yang gak normal pula. Biarpun aku punya kesempatan buat pulang cukup lama, tapi rasanya lebih ingin kembali ke Jogja secepatnya dan kembali merasakan aktifitas di Jogja seperti sediakala. Semoga Gunung Merapi cepat pulih dan kembali tenang. Semoga Jogja kembali berhati nyaman.

Purwokerto, 8 November 2010

About these ads

~ by si_kumbang on 19 July 2011.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: