Ya,mari kita menggalau lagi. Tentunya masih based on my true story.
Sering banget aku merasakan kekhawatiran yang berlebihan saat akan mengambil suatu keputusan. Khawatir hasilnya buruk, khawatir dicela orang lain, atau kekhawatiran-kekhawatiran lainnya. Biasanya perasaan itu muncul setelah melihat hasil yang dilakukan orang lain. Bila orang lain menghasilkan sesuatu yang tidak terlalu sempurna, rasanya aku pengen banget menghasilkan sesuatu yang lebih sempurna dari dia. Pikiran rasanya dihantui kekhawatiran-kekhawatiran akan mendapatkan hasil yang lebih buruk dari yang kuharapkan.
Hasilnya, pikiran tenaga dan waktu kukorbankan untuk mendapatkan hasil sempurna itu. Segalanya benar-benar dipikirkan untuk menghasilkan “celah” seminimal mungkin. Segala macam pemikiran dan argumen muncul memenuhi isi kepala.
Sayangnya kekhawatiran-kekhawatiran itu kadang justru begitu mengintimindasi diriku sendiri. Terlalu asyik dengan argumen-argumen dan segala teori untuk membuatnya “sempurna”. Bukan hasil sesuai dambaan yang kudapat, namun waktu yang banyak terbuang dan otak yang “overload”. Hasilnya? Terkadang justru aku tak mendapatkan apa-apa. Kesempatan pergi begitu saja sebelum aku sempat melakukan “action”.
Padahal apa yang terjadi pada orang lain belum tentu akan terjadi pada kita. Misal ketika seorang dosen mencela tugas yang dibuat seorang teman padahal tugas yang dia buat sama persis dengan kita namun belum tentu sang dosen juga akan mencela tugas milik kita. Begitu banyak faktor yang dapat mempengaruhinya, dan tentu saja salah satu adalah kuasa Tuhan. Jadi lakukan saja yang terbaik yang kita bisa, jangan sampai terkurung dalam kekhawatiran, sisanya biar Tuhan yang menentukan.
Kehawatiran sebenarnya perlu juga, sebagai pemacu untuk bertindak lebih baik. Namun jangan biarkan dia mengintimindasi dan membuat kita takut melangkah. Toh masih ada Allah yang maha berkehendak dan selalu punya rencana untuk kita. So, stop berargumen dan action!
Jangan Biarkan Kekhawatiran Mengintimindasi
•30 July 2011 • Leave a CommentSemua Terjadi Pasti Ada Alasannya
•24 July 2011 • Leave a CommentSetahun yang lalu seseorang berkata padaku, Tuhan pasti punya alasan dibalik setiap hal yang terjadi pada makhluk-Nya. Dan semalam kudengar lagi kalimat yang sama dari seorang sahabat.
Kesalahan manusia adalah jarang bisa memahami setiap alasan tersebut, namun lebih memilih untuk menyesal. Bila kita cermat, kita pasti bisa mengambil hikmah atau pelajaran dari setiap kejadian yang dialami baik itu kejadian baik maupun buruk.
Tuhan takkan menakdirkan sesuatu begitu saja, pasti Dia punya alasan dibaliknya. Tugas manusialah mengubah alasan tersebut menjadi sebuah pelajaran. Tuhanpun memiliki alasan yang berbeda-beda untuk setiap umat-Nya.
Kuliah Itu…
•20 July 2011 • 1 Comment
Rasanya beberapa waktu terakhir blog ini lebih banyak diisi postingan gak penting atau bisa dibilang postingan “sampah”. Maklum, tekanan hidup lagi gak santai nih akhir-akhir ini. Nah posting kali ini coba nulis yang santai-santai aja deh, meskipun kurang penting juga kalo dipikir-pikir, tapi siapa juga yang mau capek-capek mikir coba?!
Bener banget kalo hingga detik ini status mahasiswa masih kusandang. Bahkan saat 3 bulan lalu ke kantor kecamatan buat perpanjang KTP, terpaksa juga memperpanjang status pekerjaan yang tertulis di KTP dengan titel “pelajar/mahasiswa”. Padahal kalo liat temen-temen seumuran udah pada sibuk dengan pekerjaan atau bahkan sibuk dengan istri/suami dan anak-anaknya.
Tapi sudahlah, aku sadar jalannya beda-beda. Setidaknya masih ada sisi beruntungnya juga, aku masih bisa bebas ke kampus kapanpun aku mau dan menikmati Jogja sepuasnya, padahal temen-temen yang udah lulus dan hengkang dari Jogja sepertinya begitu merindukan masa-masa kuliah dan tinggal di Jogja. Dan aku jelas lebih beruntung karena masih bisa menikmatinya.
Ngomong soal kuliah, begitu banyak hal yang menjadi ciri khas dan dan kewajiban bagi manusia yang menjalaninya. Apa aja tuh? Yuk ah Continue reading ‘Kuliah Itu…’
Dibuang Sayang Edisi Merapi: “Dan Akupun Pulang” Part 2
•19 July 2011 • Leave a Comment“Dan Akupun Pulang” Part 2
Awalnya aku berencana tetap tinggal di jogja. Namun seiring berjalan waktu, dapet kabar kalo temen-temenku banyak banget yang pulang, yang kebanyakan alasannya karena disuruh pulang orang tuanya yang taunya di tv tuh Jogja begitu mencekam. Termasuk sang pacar yang juga dipaksa buru-buru pulang sesegera mungkin tanpa boleh nunggu lagi walau semalampun bertahan di jogja. Memang sejak Jumat pagi ada pengumuman kalo perkuliahan di UGM diliburkan sampai seminggu.
Selain itu, warung-warung makan juga banyak yang tutup. Wah bisa gak makan kalo gini! Lagipula aku juga agak was-was kalo harus beli makan diluar, mengingat tebaran abu vulkanik yang gak kenal tempat dan waktu. Hingga Jumat malam, Jogja makin terasa sepi. Jalanan sangat lengang. Di perkampungan kost-kostan kayak di pogung jauh lebih terasa sepi akibat banyak ditinggal pergi mahasiswa.
Kondisi kesehatan, fisik dan perutku tampaknya makin terancam aja kalo tetap bertahan disini. Tepat seminggu sudah aku bergumul dengan abu vulkanik yang begitu jahat bagi pernafasan dan mataku. Dan dapet saran dari seorang teman, katanya, “selagi sempet buat pulang ya pulang aja walau cuma bentar”. Nah begitu dapet nasehat dari temenku ini aku langsung berniat pulang di Sabtu pagi, Continue reading ‘Dibuang Sayang Edisi Merapi: “Dan Akupun Pulang” Part 2′
Dibuang Sayang Edisi Merapi: “Dan Akupun Pulang” Part 1
•19 July 2011 • Leave a CommentIni tulisan udah cukup basi sih, kutulis di saat Gunung Merapi baru aja memuntahkan letusan terbesarnya di tahun 2010 lalu. Bukan fiksi maupun nggombal, asli dari apa yang aku alami di TKP. Ya daripada udah banyak-banyak kutulis terus mendarat di recycle bin begitu aja mending “dibuang” di sini aja deh, sekalian untuk mengingatkan kebesaran Sang Maha Berkehendak melalui Gunung Merapi ini. Langsung aja deh ini tulisannya.
“Dan Akupun Pulang” Part 1
Jam setengah 10 malam itu aku baru aja pulang ke rumah. Kondisi di luar masih rintik-rintik. Seusai memenuhi berbagai kebutuhan pribadi, jam 10 menuju kamar buat nginstal-nginstal laptop sambil ditemenin secangkir Nescafe Kopi Tubruk. Ya, baru aja sorenya aku beli laptop baru buat gantiin laptop lama yang udah mulai berumur dan rentan kena stroke.
Sejak itu telingaku mendengar sesuatu yang menurut hati kecilku cukup meresahkan. Terdengar samar-samar bunyi gemuruh dari kejauhan. Tapi aku ragu itu bunyi apa, soalnya memang hujan yang turun semenjak siang memang terkadang diiringi sambaran petir. Dan lingkungan di sekitar rumahkupun tampak tenang-tenang aja, begitu pula kabar di TV adem ayem aja. Ya udah kucuekin aja, anggep aja kupingku yang agak terganggu. Soalnya dari semalam sebelumnya aku juga denger gemuruh yang mirip dan memang tak terjadi apa-apa.
Tapi sekitar jam 11 perlahan-lahan suara gemuruh semakin nyata terdengar. Continue reading ‘Dibuang Sayang Edisi Merapi: “Dan Akupun Pulang” Part 1′


Recent Comments